Home Post Seorang Levi, Sebuah Keputusan dan Sebuah Penyesalan

Seorang Levi, Sebuah Keputusan dan Sebuah Penyesalan

Seorang Levi, Sebuah Keputusan dan Sebuah Penyesalan

Saya termasuk salah satu orang yang cukup mengagumi karya mangaka Hajime Isayama. Apalagi kalau bukan 進撃の巨人. Alias Shingeki no Kyojin. Alias Attack on Titan.

Saat ini anime-nya sedang memasuki season ketiga. Walaupun saya sudah tahu jalan ceritanya seperti apa (karena saya baca manga juga), tapi melihat karakter yang bergerak dan bersuara terasa lebih menyenangkan.

Bagaimana tidak?

Dan seperti biasa karena tidak ada kerjaan, saya biasanya menghabiskan waktu menunggu episode selanjutnya dengan menonton season 1 lagi.

Ya, menonton dari awal lagi.

Namun kemarin saya baru saja menyelesaikan menonton season 1. Tapi belum ada rencana untuk menonton season 2. Ya, sudah. Saya nonton OVA saja. Dan tentu saja, saya sebelumnya sudah pernah menonton OVA-nya.

OVA yang saya tonton adalah Attack on Titan: No Regrets. Menceritakan kisah hidup Levi sebelum Ia bergabung dengan Pasukan Pengintai di bawah kepemimpinan Erwin Smith.

Ceritanya cukup menyayat hati. Soundtrack-nya bisa dibilang salah satu yang terbaik. Tapi saya tidak ingin spoiler bagi Anda yang belum menonton. Saya cuma ingin mengambil pelajaran dari kisah hidup Levi.

Apa itu?

Kita Tidak Pernah Tahu Hasil Akhir

Di saat semua berjalan lancar sesuai rencana, di saat semua terasa baik-baik saja, di saat semua terasa berada di bawah kendali. Namun pada akhirnya kita tetap tidak tahu apa hasil dari apa yang kita usahakan.

Semua orang ingin sukses. Semua orang ingin berhasil. Tapi jangan sampai proses menuju keberhasilan yang terasa sesuai rencana membuai kita hingga terjerumus ke jurang kegagalan.

Pada kasus Levi, Ia merasa semuanya berada di bawah kendali. Semua berjalan sesuai rencana. Namun pada akhirnya, dalam sekejap mata, apa yang Ia rencanakan malah berakhir memilukan.

Buat Keputusan Pasti

Manusia senantiasa dipenuhi dengan perasaan keragu-raguan. Kita ragu dalam mengambil sebuah keputusan jika ada perasaan ragu dalam diri kita.

Tapi terkadang, keragu-raguan itulah yang bisa membuat kita bisa bertahan hidup sampai dengan sekarang. Ketika kita akan melompati sebuah lubang misalnya, kita ragu, apakah kita bisa melompati lubang tersebut dengan selamat dan berhasil sampai ke seberang lubang. Atau kita gagal melompatinya dan masuk ke dalam lubang.

Oleh karena itu, dalam mengambil sebuah keputusan, kita harus pastikan bahwa tidak ada lagi keraguan dalam diri kita. Jika kita merasa yakin bisa melompati lubang tersebut, maka melompat-lah. Jika kita merasa tidak bisa melompatinya, maka jangan lompat.

Semudah itu.

Tapi memang, mengambil keputusan yang pasti terkadang menjadi hal yang sulit dalam hidup.

Penyesalan Tidak Bisa Dihindari

Namun, betapa-pun kita yakin dengan keputusan yang kita ambil, terkadang kita bisa saja salah. Ketika kita sudah yakin bisa melompati lubang, ternyata pada saat hampir tiba di seberang, kaki kita tergelincir dan terjerumus ke dalam lubang.

Keputusan yang salah sudah diambil dan tidak bisa diulangi lagi.

Pada saat itulah rasa penyesalan muncul. Andai saja kita tidak melompati lubang tadi, maka kita tidak akan masuk ke dalam lubang.

Rasa penyesalan memang tidak bisa dihindari.

Tapi bukan berarti kita harus hidup dalam penyesalan.

Yang harus kita lakukan adalah bangkit berdiri dan mencoba keluar dari dalam lubang. Ada perasaan sakit, ada perasaan malu, ada perasaan menyesal. Maka terima saja perasaan-perasaan yang bercampur aduk tersebut. Tapi hanya pada saat itu saja. Tidak perlu berlarut-larut.

Ketika kita sudah mampu berdiri lagi, maka rasa penyesalan tidak dibutuhkan lagi. Yang kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari pengalaman yang kita dapat dan melanjutkan hidup seperti sebelum kita mengambil keputusan untuk melompati lubang tadi.

Melanjutkan hidup menjadi seseorang yang lebih baik.

Penutup

Season 3 anime Attack on Titan lebih banyak menceritakan perjalanan hidup Levi ketika masa-masa kecilnya dulu. Saya sendiri sudah lupa detail ceritanya seperti apa. Karena memang ceritanya cukup membosankan dan sulit dipahami. Bahkan Hajime Isayama mengakui bahwa saat Ia menulis cerita tersebut adalah saat-saat Ia merasa kehabisan ‘bensin’. Tapi mungkin akan saya coba baca lagi.

Atau tunggu anime-nya saja ya?

Semoga cerita di anime menjadi lebih menarik dan semoga ada pelajaran lainnya yang bisa diambil dari perjalanan hidup Levi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.