Relativity

Sebuah Penggalan Novel

Pada tulisan Membuat Tulisan yang Tak Dibaca saya pernah berjanji untuk memposting sebuah konsep novel yang saya tulis beberapa tahun yang lalu. Novelnya sama sekali tidak selesai. Saya bahkan lupa jalan cerita di novel ini mau di bawa ke mana. Saya hanya ingat ini adalah cerita perjalanan seorang pandai besi yang memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Pandai besi tersebut bukan orang yang bisa menerima perkataan seseorang begitu saja. Kemampuannya mengolah besi akan membantunya menemukan arti kehidupan.

Cukup dalam.

Tapi sudahlah, ini dia!

BAB I

Logam Panas

 

Logam panas yang memerah berdentang dengan keras seiring pukulan demi pukulan yang kuhujamkan untuk membuatnya semakin pipih. Palu yang kugenggam berhasil membuat sang logam yang kokoh kini melunak dan mengalah akan panasnya bara api dan kerasnya pukulan palu yang berkali-kali ku suguhkan padanya. Perlahan sang logam yang tadinya merah membara tampak kehitaman seakan melawan dan memuntahkan hawa panas yang memenuhi seluruh ruangan tempatku menempanya.  Aku tidak membiarkannya begitu saja, seolah memberinya kesempatan untuk bernafas aku mencelupkannya ke dalam wajana berisi air yang serta merta menyemburkan uap demi menolong sang logam dari derita yang ia terima. Desiran air yang menguap pun mewakili jeritan sang logam yang menahan sakit deritanya.

Logam panas yang memerah itu  kini telah dingin dan menampakkan warna hitam legam bekas luka bakar yang ditorehkan bara api yang panasnya mampu mengeringkan keringatku yang bercucuran. Aku memperhatikan setiap lekuk logam itu sambil berkata, “Sedikit lagi.”

Aku melanjutkan menyiksa sang logam dengan kembali meletakkannya ke atas bara api. Si bocah yang dari tadi memperhatikan pekerjaanku dengan sigap memompa bilah bambu dengan cepat. Bilah bambu itu menghembuskan angin yang mampu membuat bara api yang tadi merah merubah menjadi kekuningan bagai cahaya matahari. Begitu juga sang logam lagi-lagi tampak kesakitan. Aku memperhatikan setiap perubahan warna yang terjadi pada logam dengan mata yang telah terbiasa untuk berkunang-kunang setelah bertahun-tahun bekerja sebagai pandai besi.

Saat aku mengangkat sang logam, bocah itu pun menghentikan pekerjaannya. Sedangkan aku mulai memukuli sang logam. Namun tidak sekeras pukulan-pukulan sebelumnya, kali ini aku menempanya dengan pelan. Seolah iba dengan sang logam yang dari siang tadi ku tempa tanpa belas kasihan. Sang logam yang tadi siang hanyalah bongkahan seharga 5 cupak beras. Kini berubah wujud menjadi sebilah sabit yang kujanjikan akan ditukar dengan 20 cupak beras hasil panen Pak Warman tetanggaku sekaligus pemilik gubuk tempatku bekerja.

Logam ini sekarang terlihat sempurna di mataku. Aku dapat melihat lekukannya bagaikan bulan sabit dan permukaannya bagaikan kulit ikan lele. Sekarang logam ini boleh berlega hati, karna pekerjaanku untuk menempanya sudah berakhir. Aku lalu menghampiri bocah yang membantuku dan memberinya secupak beras untuk ia bawa pulang. Ia pun tersenyum dan berlari pulang sambil mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum memperhatikan tingkahnya. Kini aku kembali kepada pekerjaan yang bisa kulakukan sendirian dan butuh beberapa hari untuk menyelesaikannya. Aku harus mengamplas sabit ini dan memastikan ketajamannya agar dapat bekerja dengan baik untuk menyabit padi di sawah Pak Warman yang sudah tampak akan menguning. Sekaligus menandakan bahwa waktu ku untuk mengerjakan sabit ini masih banyak. Ya, bagiku mengerjakan sabit ini tidak membutuhkan waktu lama. Tapi pak Warman memberikan tenggang waktu yang cukup lama, sehingga aku mungkin dapat menyelesaikannya dalam setengah waktu yang ia berikan.

Matahari sudah condong ke barat. Aku harus mengisi perutku sebelum melanjutkan pekerjaan untuk mengamplas sabit ini. Aku lalu berjalan kebelakang gubuk di mana aku menanam sebatang ubi dan sebatang besi yang kutempa sehingga mirip dengan batang ubi disebelahnya. Aku sudah berhari-hari memperhatikan batang ubi yang kutanam kini telah tinggi dan berdaun seperti jari tangan. Sedangkan besi yang ku tanam tetap setinggi waktu ia ku tanam dan kini besi itu sudah berkarat bagaikan membaur dengan tanah di bawahnya. Aku kecewa melihat besi ini. Aku mencabutnya dari tanah dan melihat juga tidak ada yang tumbuh dibawah batang besi ini. Aku menggali lebih dalam bekas tanahnya dan tidak menemukan apa-apa. Tampaknya ini benar-benar pekerjaan yang sia-sia. Aku tidak bisa membuat batang besi ini untuk tumbuh dan berbuah seperti layaknya batang ubi. Aku menghela nafas dan mencabut batang ubi yang sebenarnya. Jelas saja, ubi ini sekarang sulit untuk dicabut karena sudah ada beberapa ubi dibawahnya. Aku harus mengais tanah di bawahnya agar ubi-ubi ini dapat dicabut dengan mudah.

Selesai memanen ubi dan batang besi ini, aku pun berjalan kedalam gubuk menghampiri tungku bara api bekas pekerjaan tadi. Mencabut ubi dari batangnya dan membelah dua salah satu ubi yang paling besar lalu memasukkannya kedalam tunggu bara api. Batang ubi besi kugunakan sebagai tongkat untuk memasukkan ubi lebih dalam lagi ke bara api. Aku sekarang menunggu ubi masak sambil memikirkan apa yang terjadi pada ubi dan batang besi yang kutanam. Aku sudah bersusah payah menempa besi ini menjadi mirip dengan batang ubi. Lalu mereka kutanam secara bersamaan. Tapi aku tidak mengerti, mengapa batang ubi yang yang sebenarnya dapat tumbuh berdaun dan menghasilkan buah, sedangkan besi yang kutanam tidak menampakkan perubahan. Kecuali serpihan karat yang mulai membungkus seluruh permukaan batang besi berhari-hari kemudian. Lalu apa yang membuat ubi ini bisa tumbuh? Kenapa batang besi ini tidak? Siapa yang menumbuhkannya?

Aku selalu dilanda dilema yang dalam setiap kali memikirkan hal-hal yang terjadi di dunia ini. Aku selalu berpikir kekuatan apa yang menggerakkan matahari dan bulan serta bintang. Kenapa api mampu membakar bara dan melunakkan besi sehingga aku bisa menempanya dengan mudah? Pikiranku selalu dipenuhi pertanyaan-pertanyaan dan mungkin tidak ada yang mampu menjawabnya. Mungkin tidak di negeri ini. Tanah kelahiranku, Nagari Pagaruyuang.

“Oi”, suara seseorang menyintakkan ku dari lamunan.

“Tampaknya pekerjaanmu sudah selesai. Sehingga bisa melamun”, sapa pria tua itu sambil tersenyum. Dia adalah pak Warman. Orang yang memesan sebilah sabit kepadaku.

“Aku bisa melamun kapan saja. Saat menempa besi ataupun saat diterkam harimau.”, jawabku sambil mengaduk-aduk bara api dan memeriksa keadaan ubi yang kumasukkan kedalamnya. Sejenak aku memikirkan jawabanku tadi.

“Hahaha. . . Melamun saat diterkam harimau? Hahaha. . . Kau masih memikirkan bagaimana bumi ini terbentuk?”, sahut pak Warman sambil menepuk pundakku. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Pak Warman adalah orang yang paling sering kuhujani pertanyaan-pertanyaan yang acap kali membuat keningnya berkerut. Kadang ia tertawa mendengar pertanyaan atau pun pernyataan yang kuberikan padanya. Ia juga orang yang pertama kali mengajariku bagaimana caranya menempa besi.

“Aku mendengar ada pedagang dari tanah Arabia yang datang membawa ajaran agama baru. Mungkin ajaran mereka bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kau lontarkan dan tidak bisa aku jawab”, sahut pak Warman tanpa menunggu jawaban dariku.

“Arabia?”, tanyaku.

“Ya, aku mendengarnya dari orang-orang yang baru kembali dari dermaga. Orang Arabia itu katanya banyak membawa binatang ternak. Sayang sekali padiku belum panen, sehingga aku tidak dapat menukarnya dengan seekor kambing atau lembu”.

“Lalu bagaimana dengan ajaran agama baru yang mereka bawa?”, sahutku tanpa peduli dengan cerita pak Warman tentang binatang ternak.

“Aku tidak tahu banyak. Karena mereka-mereka  yang  kembali dari dermaga banyak yang tidak mengerti apa yang orang arab itu katakan. Sudah berkali-kali kukatakan pada mereka  untuk belajar bahasa Portugis, tapi mereka tidak mau mendengarkanku”, lanjut Pak Warman sambil menghisap tembakau yang ternyata sudah ada daritadi di tangan kanannya.

Aku berpikir bahwa aku harus pergi ke sana untuk menemui orang Arabia itu. Aku harus tahu ajaran agama apa yang mereka bawa. Jika aku berangkat sekarang mungkin aku bisa tiba di sana sebelum orang arab itu meninggalkan dermaga, namun aku harus menyelesaikan pekerjaan ku mengamplas sabit milik Pak Warman.

“Aku sepertinya harus menuju ke sana. Tapi aku belum menyelesaikan sabit mu pak.” Aku berkata padanya sambil menunjukkan sabit yang matanya masih hitam dan tumpul.

“Kau harus menyelesaikannya dahulu. Aku tidak tahu apa jadinya jika aku menyabit padi dengan sabit seperti itu.” Sahut pak Warman dengan mengenyitkan dahinya.

“Aku akan menyelesaikannya dalam dua hari lagi.” Jawabku dengan penuh keyakinan.

“Kau jangan membuatnya secara terburu-buru. Aku tidak mau jika sabitku kau kerjakan dengan semberawutan.” Lagi-lagi ia mengenyitkan dahinya. Kali ini dahinya berlipat lebih banyak daripada sebelumnya. Aku terdiam. Jika aku benar-benar mau menyelesaikan sabit ini dalam waktu dua hari, aku harus bekerja siang malam tanpa henti. Aku memikirkan bagaimana rasanya tanganku ini jika harus bekerja tanpa henti seperti itu. Mungkin tanganku akan mati rasa dan tulang-tulangku seperti akan terlepas. Namun, keinginanku untuk menemui pedagang arab itu benar-benar kuat. Aku harus menemui orang Arabia yang membawa ajaran agama baru itu.

Tamat

 

Ya, cuma sampai di situ saja. Saya tidak berencana untuk menyelesaikan novel ini karena jalan pikiran saya sudah jauh berubah sejak novel ini saya ketik.

Bagi Anda yang penasaran dengan jalan ceritanya, tenang. Saya jelaskan.

Si pandai besi yang belum saya pikirkan namanya tersebut akhirnya berangkat ke Arabia. Di sana ia bertemu dengan wanita cantik jelita bernama Masyithah. Wanita yang soleha. Tapi karena si pandai besi memiliki banyak pertanyaan di otaknya, ia banyak melakukan hal-hal bodoh yang memicu perselisihan dengan penduduk lokal, membuat ia dikucilkan oleh masyarakat Arabia. Beberapa bulan kemudian Masyithah menikah dengan lelaki lain, si pandai besi frustasi dan memilih jalan hidup sebagai seorang assasin. Dengan keahliannya mengolah besi, ia berhasil menciptakan senjata-senjata mematikan yang membuatnya sulit dideteksi. Karirnya sebagai pembunuh bayaran sangat cemerlang dan ditakuti seantero Arabia. Hingga pada suatu hari ia menerima pekerjaan membunuh dengan bayaran sangat besar. Targetnya adalah seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Masyithah. Ia menerima pekerjaan tersebut. Tetapi di saat si pandai besi bertatap mata dengan wanita yang dicintainya, ia mengurungkan niatnya untuk membunuh. Ia akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara membakar dirinya di tempat persembunyiannya. Bersama batu bara dan besi-besi yang ada di sana. Jasadnya tidak pernah ditemukan dan tak seorangpun yang tahu kepergian seorang assasin.

Tamat.

Lol. Saya ternyata pintar mengarang cerita dengan sangat cepat. Ah, semoga nanti saya benar-benar bisa menulis novel yang memiliki jalan cerita lebih baik dari itu.

0 Comments

Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!

    Reply your comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked*