Relativity

Pengalaman Pertama Menjadi Pembicara Seminar

pengalaman-pertama-menjadi-pembicara-seminar
Pada saat membuat tulisan pilu saya tentang Mengubur Sebuah Mimpi, saya menjadi teringat pengalaman saya pada waktu kuliah dulu. Saya pernah menjadi pembicara sebuah seminar. Seminar yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus saya, Universitas Putra Indonesia ‘YPTK’ Padang. Yup, pada saat itu saya masih kuliah (atau lebih tepatnya sedang berusaha menyelesaikan skripsi) dan diminta untuk mengisi seminar. Seminar tersebut diadakan pada tahun 2015 lalu. Pada saat itu saya sedang giat-giatnya membuat aplikasi Android. Saya sudah punya aplikasi Benar Atau Salah yang sudah didownload 12.000 kali di Google Play. Bukan angka yang terlalu besar, memang. Tapi sudah cukup membuat saya bangga dan memamerkannya ke teman-teman kampus. Mungkin karena sering pamer tersebut, saya mendapat telepon dari salah satu anggota UKM Cybernetix untuk menjadi pembicara seminar. Orang tersebut menelepon sekitar jam 7 malam. Saya diminta untuk mengisi seminar tentang perkenalan sistem operasi Android 6.0 alias Marshmallow. Sebagai orang yang sudah memiliki sedikit pengalaman dalam mengulik aplikasi Android, tentu saja saya merasa senang dan bangga ada orang yang meminta saya mengisi acara seminar. Akan menjadi sebuah pengalaman berharga, pikir saya. Dengan antusias pula saya bertanya, “Kapan seminarnya?”. “Hari Rabu, bang”, jawab orang yang menelepon. “Sekarang hari Minggu, berarti?”, gumam saya. WTF? 3 hari lagi? Tunggu, sekarang sudah malam, jadi pada dasarnya: 2 hari lagi??? Saya sempat akan menolak permintaan tersebut karena waktunya terlalu mepet. Tapi saya memilih untuk berbicara langsung dengan orang yang menelepon untuk mendiskusikannya lebih lanjut. Yang menelepon ternyata bukanlah orang yang sama sekali tidak saya kenal. Dia merupakan junior saya di kampus. Yang kebetulan ngekos di kosan lama saya. Di kosan lama tersebut ada teman saya yang masih tinggal di sana, jadi dia tahu saya dari teman saya tersebut. Dan saya juga tahu dia karena saya masih sering main di kosan lama tersebut.

Malam itu juga…

Malam itu juga saya berangkat ke kos lama saya. Letaknya dekat dengan kampus. Sedangkan saya tinggal jauh dari kampus. Tidak masalah memang. Sesampainya di sana saya menyempatkan diri menyapa teman-teman kos lama dan langsung menuju kamar si penelepon (yang sekarang saya lupa namanya) untuk mendiskusikan masalah seminar tersebut. Di sana juga sudah ada ketua UKM yang sekaligus menjadi panitia acara. Setelah berdiskusi, saya menemukan fakta bahwa ternyata seminar tersebut juga dilaksanakan dalam keadaan terdesak. Sudah ada sekitar 200 orang yang mendaftar mengikuti seminar, tetapi panitia masih belum menemukan orang yang cocok untuk menjadi pengisi seminar. Wah, 200 orang? Banyak juga. Seminar tersebut benar-benar hanya berupa perkenalan Android 6.0 “Marshmallow”. Jadi saya hanya perlu membuat materi tentang apa saja fitur-fitur baru yang terdapat pada Android Marshmallow. Tidak terlalu banyak. Hanya perkenalan saja, tanpa perlu mengulas hal-hal lebih advance. Karena saya sudah pengalaman sebagai developer Android, saya diminta untuk memperkenalkan fitur baru Android Marshmallow dari sudut pandang developer. Sedangkan yang mengulas tentang fitur baru dari sisi pengguna, sudah ada seorang lagi yang merupakan anggota UKM yang akan menjadi pembicara sebelum saya. Selain itu kami juga mendiskusikan masalah honor saya sebagai pembicara seminar. Ini yang paling membuat saya antusias, karena pada awalnya saya pikir saya tidak dibayar. lol. Tapi sekali lagi, karena waktunya juga mepet dan banyak dana tak terduga, mereka tidak punya banyak dana tersisa untuk honor pembicara. Karena saya merasa ini merupakan sebuah pengalaman berharga, saya meminta honor murah saja. Hanya Rp100.000. Tapi mereka malah menolak karena terlalu murah dan kasihan sama saya. lol. Akhirnya kami sepakat honor untuk saya adalah Rp 200.000,-. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Dan begitulah. Saya menerima tawaran menjadi pengisi seminar tersebut. Malam itu juga saya langsung mencari materi-materi presentasi yang akan saya bawakan pada Hari H.

Sehari sebelum Hari H…

Sebuah bencana. Saya sama sekali tidak punya baju yang ‘layak’ digunakan oleh seorang pengisi seminar. Saya hanya punya baju yang sehari-hari saya gunakan pergi ke kampus. Lebih buruknya? Celana saya yang saya titipkan di laundry ternyata belum selesai karena waktu itu cuaca sering mendung. Jadi saya tidak punya baju dan celana yang bisa digunakan untuk seminar! Setelah mencoba mencari solusi masalah tersebut, saya memilih untuk menggunakan baju yang biasa saya gunakan ke kampus saja. Tanpa banyak gaya. Untuk celana, saya pinjam celana teman kos saya saja, si Nofri. Sekarang saya tinggal memikirkan masalah rambut. Bukan masalah besar. Malam harinya saya berkunjung ke tukang pangkas rambut langganan saya dan mencukur rambut saya supaya kelihatan lebih rapi. Materi yang akan saya presentasikan pada seminar sebenarnya sudah 90% jadi. Tetapi sekarang yang menjadi masalah adalah laptop yang akan saya gunakan. Saya sendiri punya MacBook. Tapi saya tidak punya converter untuk menghubungkannya ke proyektor. Akhirnya saya meminjam laptop kawan kos. Sekarang muncul lagi masalah baru, laptop yang saya pinjam tidak terinstall Android Studio. Sedangkan saya butuh Android Studio untuk memperagakan bagaimana membuat aplikasi Android. Tidak hanya itu, saya juga harus menginstall Office Remote agar saya bisa mengendalikan presentasi saya menggunakan hape Samsung Galaxy Y saya. Maka malam itu saya selesaikan untuk menginstall semua yang dibutuhkan, menyelesaikan slide presentasi dan memastikan semuanya bekerja dengan baik. Mungkin karena terlalu serius, saya jadi lupa waktu. Tanpa sadar saya baru menyelesaikan semuanya pukul 03.00 dini hari! Tapi tidak masalah, seminarnya dimulai pukul 10.00, jadi saya bisa tidur sejenak dan berharap alarm saya bekerja dengan baik untuk membangunkan saya pada pukul 09.00. Karena waktu itu kos sedang sepi. Hanya ada saya sendiri di kos, jadi saya tidak bisa berharap ada kawan kos yang membangunkan saya. Yang pasti malam itu… eh, pagi itu saya tidur dengan nyenyak.

Paginya…

Mungkin karena badan saya sudah tidak sabaran atau mungkin karena nervous, saya bangun pukul 08.00! Hey, masih banyak waktu! Ya, sudah saya manfaatkan saja waktu tersebut untuk latihan. Di kos kami ada cermin besar yang tergantung di dinding. Saya berdiri di depan cermin dan mencoba bagaimana lagak saya di depan 200 orang peserta seminar nantinya. Waktu itu saya membayangkan semua orang ada pada posisi duduk di kursi, saya membayangkan bagaimana saya bisa berjalan-jalan di antara para peserta sambil berbicara dan memegang hape saya untuk mengendalikan Power Point. Ah, saya sangat antusias sekali. Setelah merasa cukup latihannya, saya mandi. Setelah itu saya memastikan tidak ada satupun benda yang ketinggalan. Saya membuat backup file presentasi saya di flashdisk dan di Google Drive. Karena apa saja bisa terjadi. Bisa gawat kalau file presentasi tersebut hilang. Tapi mungkin karena saya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk latihan, saya menjadi tidak sempat sarapan. Waktunya sudah mepet sekali. Saya memutuskan untuk sarapan di kampus saja. “Nanti beli Sari Roti atau apalah di minimarket”, pikir saya waktu itu.

Di dalam ruangan seminar…

Entah mungkin karena kurang konsentrasi akibat belum sarapan atau karena terlalu antusias, saya malah langsung saja menuju ke ruang seminar. Saya lupa beli makanan. Di depan ruangan sudah ada ketua UKM yang waktu itu berdiskusi dengan saya. Dia langsung mempersilakan saya masuk ke ruang seminar. Saya langsung main masuk saja. Ruangan tersebut sudah penuh dengan peserta seminar. Jumlah peserta ternyata lebih banyak dari bayangan saya. Memang jumlah pesertanya ada 200 lebih, tapi dalam bayangan saya, 200 orang tidak sebanyak itu! Selain itu ternyata peserta tidak duduk di kursi. Peserta seminar ternyata duduk di lantai beralas tikar (atau biasa disebut lesehan). Itupun mereka duduknya rapat, tanpa ada celah. Bayangan saya yang akan berjalan-jalan di antara peserta seminar musnah sudah. Padahal saya sudah pakai parfum andalan saya untuk itu! Mungkin lain kali saya harus menurunkan sedikit ekspetasi saya. Saya dipersilakan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk pembicara seminar. Bukan lesehan. Tetapi kursi dan meja. Di sana sudah duduk pembicara yang satunya lagi. Panitia seminar datang menghampiri saya untuk menanyakan apa saja yang saya butuhkan untuk presentasi. Tidak banyak yang saya perlukan, saya sudah ada laptop dan hape saya yang berfungsi sebagai remote. Semuanya dalam keadaan full charge. Yang saya perlukan hanyalah proyektor. Ah, saya bangga dengan persiapan saya. Sebelum acara seminar di mulai, panitia mengadakan acara hiburan. Di depan saya sudah ada grup musik akustik yang menyanyikan lagu-lagu andalah mereka. Bagusnya, peserta seminar ternyata menikmati hiburan tersebut dan bernyanyi bersama-sama. Sesuatu yang yang sangat saya syukuri. Peserta seminarnya ramah. Bisa sedikit menghilangkan rasa grogi saya. Saya cuma senyam-senyum saja melihat para peserta bernyanyi. Setelah acara hiburan, ada kegiatan lainnya. Yaitu penyerahan piagam dari Presiden Republik Mahasiswa kepada UKM Cybernetix. Saya tidak terlalu memperhatikan acara tersebut. Karena tentu saja, saya lapar! Tapi hey! Di tengah-tengah acara penyerahan piagam, datang panitia seminar lainnya yang meletakkan sebotol air minum dan roti di meja saya! Ada Sari Roti isi coklat kesukaan saya! Tapi tentu saja, saya tidak buru-buru memakannya. Nanti dikira orang yang kelaparan. Saya memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi.
Makan tidak makan tidak makan tidak…
Sayang sekali cuma ada foto di atas yang saya punya untuk dimuat di tulisan ini. Itupun saya dapat dari website UKM Pers Gelegar. Saya lupa meminta foto-foto lainnya. Mungkin nanti saya minta, ketika saya tahu ada di mana Ketua UKM Cybernetix (paling kiri) sekarang berada. Setelah acara penyerahan piagam, barulah dimulai acara seminar. Yang menjadi pembicara pertama adalah orang yang duduk di samping saya pada foto di atas. Di tengah-tengah presentasi pembicara pertama itulah saya melahap Sari Roti yang dari tadi mempelototi saya. Pembicara pertama tidak terlalu panjang menyampaikan materi presentasi. Cuma setengah jam kalau saya tidak salah. Untungnya waktu yang singkat tersebut sudah cukup bagi perut saya untuk mencerna roti yang saya makan menjadi energi. Saya mengepalkan tangan saya erat-erat dan bisa merasakan energi yang saya miliki sudah cukup untuk berbicara di depan 200 orang. Semua persiapan siap dan saya pun siap.

Pagi!

Tibalah saat yang dinanti-nantikan. Saya dipanggil oleh MC sebagai pembicara selanjutnya atau pembicara utama dalam seminar tersebut. Laptop pinjaman saya sudah terpasang ke proyektor, hape saya sudah terhubung dengan laptop dan berfungsi dengan baik sebagai remote. Saya maju ke depan dengan senyuman. Dengan penuh energi (berkat roti yang saya makan) saya menyapa peserta dengan ucapan, “Pagi!”. Memang saat itu sudah siang, tetapi kampus kami memiliki kebiasaan mengucapkan selamat pagi kapanpun. Tidak peduli siang atau malam. Bagaimanapun semuanya selalu pagi agar bersemangat. Peserta menjawab dengan, “Pagi!”. “Oh, ternyata kebiasaannya masih sama seperti 5 tahun yang lalu”. Timpal saya menanggapi semangat para peserta. Lalu mereka tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa. Masih menjadi misteri bagi saya sampai saat ini. Begitulah… Saya memperkenalkan diri saya di depan 200 orang yang membayar uang pendaftaran untuk menghadiri seminar yang isi. Saya juga memperkenalkan aplikasi apa saja yang sudah saya buat, saya memperkenalkan alamat blog saya (yang sekarang sudah saya hapus), memberikan alamat email saya dan sebagainya. Lalu saya menceritakan kepada peserta perjalanan saya mendirikan startup teknologi impian saya, Barapi Software. Saya menampilkan foto Bill Gates, Steve Jobs dan Mark Zuckerberg. “Ketiga orang tersebut adalah pecundang. Mengapa mereka tidak meneruskan kuliah sambil menggarap Microsoft, Apple dan Facebook? Mengapa mereka harus drop-out kuliah untuk mendirikan startup? Apa sulitnya mendirikan startup sambil kuliah?”, kata saya kepada peserta seminar. “Tetapi, setelah hampir satu tahun berusaha mendirikan Barapi Software, saya akhirnya sadar. Sayalah yang pecundang”, kata saya meneruskan kalimat sebelumnya. Sontak para peserta tertawa terbahak-bahak. Saya bahkan harus menunggu peserta diam sebelum bisa melanjutkan presentasi saya. Memang, kalimat di atas saya siapkan untuk joke, tapi saya tidak menyangka kalau peserta bisa tertawa begitu nyaringnya mendengar joke tersebut. Saya juga ikut tertawa, walaupun saya tahu yang mereka tertawakan itu adalah saya (atau mungkin ekspresi saya?), saya santai saja. Reaksi peserta menerima joke yang saya lemparkan membuat saya semakin percaya diri. Mungkin saya bisa juga jadi stand-up comedian, pikir saya waktu itu.

Setelah itu sebuah pelajaran berharga…

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, materi presentasi saya adalah perkenalan fitur-fitur baru Android Marshmallow dari sudut pandang developer. Pikir saya, tentu saja untuk mempresentasikan sebuah materi dari seorang developer Android, peserta harus melihat saya sebagai seorang developer Android. Bukan sebagai seorang mahasiswa. Saya membayangkan reaksi peserta setelah mendengar pengalaman saya. Saya membayangkan mereka semua akan mengakui bahwa saya adalah seorang developer aplikasi Android yang pantas menjadi pembicara di seminar ini. Saya yakin, jika saya bertanya pada peserta, “Apakah semuanya setuju bahwa saya adalah developer aplikasi Android?”, maka peserta akan serentak menjawab, “Setuju!!!”. Tetapi kenyataan berkata lain… Setelah saya menceritakan siapa diri saya dan pengalaman yang saya punya, saya akhirnya bertanya kepada para peserta, “Jadi dengan begitu, apakah semua setuju bahwa saya adalah seorang developer aplikasi Android?!”, tanya saya lantang penuh semangat. Peserta hanya diam. Saya pun diam tidak percaya. Saya bertanya sekali lagi, “Setuju semuanya bahwa saya adalah developer aplikasi Android?”. Peserta lagi-lagi hanya diam. Saya panik. Saya tidak ingat lagi apa yang saya ucapkan setelah itu karena saking paniknya saya pada waktu itu. Yang saya ingat saya berkata, “Ayolah… ada yang setuju bahwa saya adalah developer aplikasi Android?”. Kata saya dengan nada yang tidak bisa saya jelaskan di tulisan ini. “Setuju setuju…”, sahut beberapa orang yang sepertinya paham akan reaksi saya. Beruntung, sahutan dari beberapa orang tersebut seolah-olah membangunkan saya dari rasa panik. Saya menatap mata para peserta dan berpikir, sudahlah. Kita lanjutkan saja. Itu adalah kejadian yang benar-benar menjadi pelajaran berharga dalam hidup saya. Saya menjadi sadar, saya tidak perlu meminta pengakuan dari orang lain akan apa yang sudah saya raih dalam hidup ini. Saya tidak perlu mendapat pengakuan akan apa yang saya kerjakan. Sejak saat itu saya tidak lagi membutuhkan pengakuan dari orang lain. Pengakuan bukanlah hal penting.

Semuanya berjalan lancar…

Setelah momen pengakuan tersebut, semuanya berjalan lancar. Memang ada sedikit kendala kecil. Saya meminjam smartphone Android salah satu peserta untuk mengaktifkan developer mode-nya. Tapi saya malah gagal mengaktifkannya karena tidak terbiasa dengan tampilan antarmuka smartphone milik peserta yang saya pinjam. Setelah hampir satu jam memberikan materi, saya bisa melihat beberapa peserta mulai beranjak ke luar ruangan. Yang mana hal itu bisa dimaklumi karena azan Zuhur sudah berkumandang. Selain itu materi saya sudah masuk ke materi yang membosankan. Karena mulai membahas hal-hal teknis yang entah mengapa saya sertakan dalam presentasi. Mungkin agar saya juga ingin diakui sebagai orang pintar kali ya? Tapi semuanya bisa saya persingkat dan saya mengakhiri presentasi saya dengan berkata, “Baiklah sampai di situ saja”. Sedikit awkward memang. Karena saya tidak banyak berbasa-basi dalam mengakhiri materi. MC juga tampak bingung melihat penutupan dari saya. Tapi hey! Saya haus!

Sesi tanya jawab…

Setelah saya duduk dengan tenang, MC lalu membuka sesi tanya jawab. Peserta dipersilakan memberikan pertanyaan kepada pemateri. Yaitu saya sendiri. Pemateri yang satu lagi entah pergi ke mana. Salah seorang peserta bertanya, “Siapa yang menciptakan sistem operasi Android?”. Saya waktu itu menjawab dengan penuh percaya diri. Android diciptakan oleh Andy Rubin yang saat ini bekerja di Xiaomi. Yang mana jawaban tersebut setengah benar. Karena memang, Andy Rubin merupakan salah seorang yang memiliki andil besar dalam penciptaan sistem operasi Android. Tapi yang saat itu bekerja di Xiaomi adalah Hugo Barra. Saya tidak tahu apakah pertanyaan tersebut adalah pertanyaan tes. Tapi si penanya tidak protes dengan jawaban saya. Selanjutnya ada peserta yang menanyakan aplikasi yang saya gunakan dalam presentasi ini. Dia penasaran, mengapa saya pakai smartphone. Bukan laser pointer. Jawabannya mudah saja, saya menggunakan aplikasi yang bernama Office Remote for Android. Aplikasi ini hanya bekerja pada software Microsoft Office. Tapi kemampuannya sangat memudahkan Anda dalam memberikan presentasi. Anda malah bisa menggunakan smartphone Anda sebagai laser pointer. Mungkin kita akan membahas aplikasi ini di lain kesempatan. Sebagai penutup acara, panitia mengadakan kuis berhadiah. Panitia memberikan pertanyaan kepada peserta dan peserta yang menjawab dengan benar akan mendapat hadiah. Salah satu dari pertanyaannya adalah pertanyaan dari saya. Saya merasa terhormat sekali diberi kesempatan untuk memberikan pertanyaan berhadiah. Hehe Saya bertanya, apa nama startup yang saya dirikan? Salah seorang peserta wanita yang berada paling depan mengangkat tangan. Panitia memberikan kesempatan peserta tersebut untuk menjawab. Ia menjawab dengan benar, “Barapi Software”. Saya hanya tersenyum mendengar jawaban tersebut. Nama startup yang saya dirikan disebut oleh orang lain. Hal kecil yang membuat saya semakin bersemangat mendirikan startup kecil saya.

Akhirnya…

Peserta berangsur-angsur keluar ruangan. Saya masih duduk di kursi saya, menghabiskan minuman saya sambil menunggu panitia membereskan laptop pinjaman saya. Setelah beres saya pun keluar. Saya disambut oleh Ketua UKM Cybernetix di depan pintu sambil menyodorkan amplop ke tangan saya. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Pada kenyataannya, kami sama-sama berterima kasih. Dia mengajak saya untuk berkumpul-kumpul dulu dengan panitia penyelenggara seminar. Tapi karena saya ada urusan lain (melanjutkan tidur), saya menolak. Tak lupa saya berkata untuk menghubungi saya lagi jika ada seminar serupa. Sambil berlalu menuju motor saya yang terparkir di halaman parkir, saya melihat sekelompok mahasiswi berfoto di depan salah satu poster yang dipajang panitia di dekat ruangan seminar. Mungkin untuk keperluan sosial media. Untuk dipamerkan kepada teman-teman mereka bahwa mereka baru saja mengikuti seminar yang saya sebagai pemateri. Sebuah perasaan yang tidak dapat saya jelaskan ketika melihat hal tersebut. Tersirat rasa ingin mengulangi lagi pengalaman yang baru saja saya dapatkan. Sebuah pengalaman berharga.

Beberapa hari kemudian…

Beberapa hari kemudian, saya diberitahu bahwa berita tentang seminar tersebut telah dimuat di website UKM Pers Gelegar. Saya mengunjungi website tersebut dan melihat foto saya yang sedang dalam ekspresi aneh menatap sesi penyerahan piagam (yang bisa Anda lihat pada foto di atas).

Penutup

Tiga tahun sudah berlalu sejak seminar di hari itu. Sebuah kenangan dan pengalaman yang baru sempat saya ceritakan sekarang. Sebuah pengalaman pertama mengisi acara seminar. Sebuah pengalaman berharga untuk seminar-seminar lainnya yang mungkin akan saya isi di masa depan. Sebuah pengalaman yang kembali teringat ketika saya memutuskan untuk mengakhiri startup impian saya, Barapi Software. Sedikit memilukan memang. Tapi menurut saya, itulah hidup. Ada kesuksesan dan ada kegagalan. Seminar yang saya isi di hari itu bisa saya katakan sebuah kesuksesan. Sedangkan Barapi Software yang saya dirikan adalah sebuah kegagalan. Saya sudah banyak mengalami kegagalan dalam hidup. Tetapi dengan mengingat kembali kesuksesan yang pernah saya alami di waktu lampau, membuat saya berpikir bahwa kegagalan bukanlah sebuah hal yang patut untuk ditangisi. Saya melihat jalan saya masih panjang. Walaupun banyak impian saya yang sudah tidak mungkin untuk dicapai, rasanya menyerah bukanlah sebuah jawaban. Masih ada impian-impian lainnya yang masih mungkin untuk dicapai. Akhir kata, saya berharap semoga pengalaman tadi bermanfaat bagi Anda yang juga akan mengisi acara seminar!
0 Comments

Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!

    Reply your comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked*