Mengubur Sebuah Mimpi

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan sebuah email. Email tersebut datang dari penyedia jasa hosting yang saya sewa. Mereka mengirimkan email pemberitahuan bahwa salah satu domain dan hosting yang saya sewa akan segera berakhir masa sewanya beberapa minggu ke depan.

Saya sedih.

Karena domain yang akan berakhir masa sewanya itu adalah…

barapi.com

Bagaimana tidak sedih? Domain tersebut adalah salah satu mimpi saya yang sudah tidak layak lagi saya perjuangkan. Saya sudah kehabisan waktu untuk mengejar mimpi tersebut. Mimpi membuat sebuah startup yang bergerak di bidang pembuatan game dan aplikasi Android. Sebuah mimpi yang seharusnya sudah terwujud 2 tahun yang lalu. Tapi yang ada sekarang hanyalah saya yang mencoba mengetik kata-kata yang tidak terlalu indah untuk meratapi mimpi yang harus saya kubur.

Ya, saya tidak akan memperpanjang masa sewa domain itu lagi.

Saya membeli domain tersebut pada tahun 2015. Pada saat itu saya juga menyewa hosting agar bisa menampilkan halaman under-construction supaya pengunjung tahu bahwa sebuah website dari salah satu developer Android asal Payakumbuh sedang dibangun.

Under Construction

Kami merupakan startup asal Payakumbuh yang saat ini berfokus pada pengembangan aplikasi berbasis sistem operasi Android. Saat ini kami baru memiliki dua aplikasi yang bisa di download di Google Play. Yaitu, Benar Atau Salah dan Harga Otak. Website ini dibangun agar kami selalu terhubung dengan pengguna aplikasi kami diseluruh dunia! Dan tentu saja setelah ini akan banyak aplikasi-aplikasi berkualitas yang akan dirilis untuk para pengguna Android di Indonesia!

former barapi.com

Tapi sayang, 3 tahun kemudian website tersebut masih dalam status under-construction. Karena pada kenyataannya, developer Android yang membuat website tersebut tidak pernah bisa mencapai tujuan yang dengan penuh motivasi tinggi mereka tampilkan pada website tersebut.

Tidak hanya itu jika kita mengklik link 'Tentang' yang ada di sana, kita bisa menemukan kata-kata yang tidak kalah antusiasnya.

Sangat antusias. Atau bisa dibilang 'naif'.

Banyak pengembang aplikasi Android asal Indonesia terkesan setengah-setengah dalam meluncurkan aplikasi untuk pengguna di Indonesia. Pengembang yang sukses pun biasanya lebih tertarik untuk mengembangkan aplikasi yang ditujukan pada pasar Internasional ketimbang Nasional. Untuk itulah, kami dari Barapi Software akan membuat seuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Nantikan gebrakan dari kami!

former barapi.com

Menyedihkan… mereka tidak pernah bisa mewujudkan apa yang mereka tulis di website tersebut sampai detik ini.

Sudah bisa Anda tebak, 'mereka' itu adalah saya sendiri.

Mungkin memang saya yang tidak berusaha lebih keras untuk membuat aplikasi Android hingga saya tidak pernah bisa membuat aplikasi Android seperti yang saya janjikan. Mungkin memang bukan keahlian saya membuat aplikasi Android yang tidak pernah ada sebelumnya. Mungkin saya salah jika saya hanya menargetkan pasar nasional, bukan internasional. Mungkin saya yang bodoh tidak menggunakan aplikasi re-skin saja untuk menambah portofolio start-up yang saya coba dirikan.

Mungkin semua mungkin…

Saya masih ingat ketika saya menemukan ide tentang nama Barapi Software tersebut. Saya melakukan survey ke teman-teman di kontak BBM saya untuk memilih, mana yang lebih keren? Barapi atau Pamenan?

Banyak yang memilih Barapi. Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu harus disurvey-survey segala. Karena nama Barapi itu memang keren. Barapi itu adalah Bahasa Minang dari kata 'berapi'. Sebuah nama yang punya semangat membara dan berapi-api.

Sayang, api itu harus pudar pada tanggal 25 Februari nanti.

Saya tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan nama domain yang keren tersebut. Saya harus segera melangkah pada targer-target lainnya yang lebih realistis. Sudah terlalu banyak target dan mimpi dalam hidup saya yang tidak pernah bisa saya capai. Menyesakkan dada saya menerima kenyataan bahwa mendirikan sebuah perusahaan software bernama Barapi Software adalah salah satunya.

Sesuatu yang tidak bisa saya capai. Sesuatu yang harus saya kubur.

Keputusan ini saya buat 15 hari setelah menerima email pemberitahuan tersebut. Saya tidak punya rencana untuk menyesali keputusan ini.

Salamek Tingga, Barapi Software.

Author: Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *