Mengapa Masih Beli Handycam? Mengapa Tidak Pakai Smartphone saja?

Bagi sebagian orang yang membaca postingan saya tentang kamera murah terbaik untuk video YouTube atau foto handycam Panasonic HC-V180 yang baru saja saya beli, mungkin muncul pertanyaan di kepala mereka, “LoL. Ini sudah zamannya smartphone masih beli handycam? Helllooooo”.

Well, saya tidak akan menyalahkan orang yang berpikir demikian. Karena saya pun juga berpikir demikian sebelum memutuskan membeli handycam dari pada menggunakan smartphone Xiaomi Redmi 4X milik saya untuk merekam video YouTube.

Bagaimana tidak? Xiaomi Redmi 4X sudah termasuk smartphone yang cukup bagus untuk merekam video. Resolusi kamera utamanya adalah 13 MP, bandingkan dengan handycam Panasonic HC-V180 yang ‘hanya’ 10 MP.

Smartphone bisa diisi dengan berbagai macam aplikasi untuk memenuhi segala kebutuhan pengambilan video maupun editing, sedangkan handycam hanya sebatas merekam video dengan fitur yang sudah di-setting dari pabriknya tanpa bisa dimodifikasi.

Selain itu harganya, Xiaomi Redmi 4X dengan RAM 3Gb dijual dengan harga sekitar Rp 1.800.000. Handycam Panasonic HC-V180 dijual dengan harga sekitar Rp 2.400.000. Karena pada saat saya membeli ada promo cashback, saya mendapatkan harga Rp 2.150.000. Tapi tetap saja, masih jauh lebih mahal sebuah handycam yang hanya bisa merekam video dari pada sebuah smartphone dengan segala fitur-fitur canggihnya.

Lalu mengapa saya yang memiliki budget terbatas ini tetap memilih membeli sebuah handycam untuk membuat video YouTube? Apa kelebihan handycam dari pada smartphone? Apa kekurangan smartphone?

Bebas Gangguan

Ketika merekam menggunakan smartphone terkadang Anda akan mendapat gangguan, seperti pesan yang masuk atau pemberitahuan yang tiba-tiba muncul. Sesuatu yang bisa merusak mood Anda yang sedang semangat-semangatnya beraksi di depan kamera smartphone Anda. Lebih parahnya, terkadang gangguan-gangguan tersebut bisa membuat hasil rekaman menjadi corrupt atau aplikasi yang Anda gunakan tiba-tiba force close.

Kalau menggunakan handycam, gangguan seperti di atas bisa dikatakan tidak ada. Merekam video menggunakan handycam cukup tekan tombol record dan Anda bisa merekam dengan tenang.

Flip Screen

Salah satu kriteria penting yang pernah saya bahas pada artikel Kriteria Kamera Terbaik Untuk Video YouTube adalah dilengkapi dengan flip screen. Flip screen sangat berguna untuk melihat keadaan di depan kamera seperti apa. Sehingga bisa membantu Anda mendapatkan hasil rekaman yang lebih baik dengan memastikan apa yang direkam oleh kamera. Terlebih bagi Anda yang merekam seorang diri.

Smartphone pada umumnya dilengkapi dengan kamera utama yang berada di belakang layar. Oleh karenanya, Anda tidak bisa melihat secara langsung apa yang sedang direkam oleh smartphone Anda. Anda tidak tahu kalau ternyata bulu hidung Anda keluar sangat melakukan perekaman. Akibatnya, Anda terpaksa mengulang video yang sudah Anda buat dari awal karena Anda tidak mau jadi bahan tertawaan di YouTube nantinya. Suatu hal yang melelahkan.

Memang sekarang sudah ada smartphone yang memiliki kamera utama di depan layar. Tetapi dalam kasus saya, saya sudah punya Xiaomi Redmi 4X dan tidak tertarik untuk membeli satu smartphone lagi hanya karena memiliki kamera bagus di depan.

Berbeda halnya dengan Panasonic HC-V180 yang saya beli. Handycam ini memiliki flip screen sehingga saya bisa tahu seperti apa hasil rekamannya nanti. Saya bisa mengatur pencahayaan dengan lebih baik tanpa harus bolak balik tengok layar. Serta saya bisa mengatur posisi badan saya serta posisi kamera dengan lebih baik.

Baterai

Xiaomi Redmi 4X saya merupakan smartphone yang baterainya tidak bisa diganti. Saya pernah melakukan sesi rekaman yang hampir 2 jam. Hasilnya baterai menjadi sekarat dan smartphone menjadi panas. Saya bisa saja merekam sambil ngecas, tapi itu bisa lebih berbahaya lagi karena smartphone akan menjadi lebih panas dari sebelumnya.

Selain itu, hal tersebut bisa menyebabkan umur baterai menjadi pendek. Dengan baterai yang tidak bisa diganti, saya tidak mau ambil resiko.

Beda halnya dengan handycam yang saya beli. Baterainya bisa dilepas dan yang jual baterai cadangannya juga banyak. Selain itu handycam juga bisa melakukan perekaman dalam keadaan tercolok ke listrik tanpa mengganggu performa baterai.

File Corrupt

Seperti yang saya tuliskan di atas, saya pernah melakukan sesi rekaman hampir 2 jam menggunakan smartphone Xiaomi Redmi 4X saya. Rekaman itu adalah rekaman proses perakitan Tamiya Mini 4WD. Tapi sayang, setelah memaksa smartphone saya bekerja hingga panas, file yang direkam ternyata corrupt. Hanya sebagian kecil dari hasil rekaman tersebut yang bisa dibaca. Sehingga apa yang saya lakukan menjadi sia-sia.

Mau bagaimana lagi, ada banyak faktor yang mengakibatkan mengapa file rekaman bisa corrupt. Bisa jadi karena bug di sistem operasinya sendiri atau bug di aplikasi yang saya gunakan. Apapun itu, saya tidak mau lagi hal itu terjadi.

Bagaimana dengan handycam?

Well, handycam dirancang untuk melakukan satu dan hanya satu hal: merekam video.

Saya yakin, untuk memastikan handycam tersebut bekerja dengan baik sebagaimana seharusnya bukanlah hal yang sulit untuk perusahaan sekelas Panasonic. Dari uji coba yang saya lakukan, belum ada tanda-tanda file corrupt saat melakukan sesi rekaman dalam durasi lama.

Tapi kita lihat saja nanti, eh?

FPS Tidak Stabil

Ini merupakan salah satu alasan kuat mengapa saya mengeluarkan uang untuk membeli sebuah handycam yang memang dirancang untuk merekam video dari pada menggunakan smartphone untuk merekam video:

FPS pada smartphone tidak stabil.

FPS tidak stabil bagaimana maksudnya?

FPS atau Frame rates Per Second adalah seberapa banyak frame/gambar yang bisa direkam oleh sebuah kamera setiap detiknya. Dalam ukuran standar, sebuah kamera yang baik seharusnya mampu merekam 30fps atau 30 frame per detik tanpa mengalami kendala. Mulai dari detik ke-1 hingga detik ke-10.000 sekalipun semuanya stabil 30 frame per detik.

Nah, smartphone canggih yang beredar saat ini memang mampu merekam 30fps atau bahkan 60fps. Tetapi dengan satu kelemahan: tidak stabil.

Hasil rekaman sebuah smartphone biasanya akan mengalami kenaikan dan penurunan FPS secara acak. Misalnya kita sedang merekam video menggunakan smartphone, pada detik ke-1 smartphone mampu merekam sebanyak 30fps. Lalu tiba-tiba pada detik ke-12, masuk sebuah pesan WhatsApp, sehingga smartphone harus menggunakan sebagian dari processornya untuk menampilkan pemberitahuan kalau ada pesan masuk, yang mana hal ini akan mengorbankan proses perekaman yang sedang dilakukan. Sehingga smartphone hanya mampu merekam 17fps pada detik ke-12. Selanjutnya karena pemberitahuan sudah ditampilkan dan processor tidak sibuk lagi, maka pada detik ke-13 smartphone akhirnya mampu merekam sebanyak 30fps lagi.

Itu adalah contoh sederhana dari penyebab tidak stabilnya FPS sebuah video yang direkam menggunakan smartphone. Sebenarnya penyebab ketidakstabilan FPS pada smartphone bisa disebabkan oleh banyak hal lainnya. Tetapi yang pasti hal ini disebabkan karena satu hal: processor pada smartphone dirancang untuk melakukan banyak hal.

Memang tidak bisa dibantah, smartphone itu harus bisa multi-tasking. Processor pada smartphone pun dirancang untuk mampu multi-tasking.

Tapi ya, itu tadi kekurangannya. Di saat disuruh buat merekam video, processor smartphone juga dituntut untuk melakukan pekerjaan lain. Seperti memastikan pesan WhatsApp masuk tepat waktu, mencari jaringan internet, mengelola pemakaian RAM, memeriksa update dan sebagainya. Sehingga menyebabkan terkadang processor smartphone terkesan ‘tidak serius’ dalam melakukan pekerjaannya. Seperti mengurangi jumlah FPS yang direkam demi melakukan tugas lainnya.

Toh, yang penting videonya terekam. Nggak ada masalah, toh?

Ya memang benar, kita tidak akan menemukan penurunan kualitas pada video yang kita rekam. Kita masih bisa menikmati video yang kita rekam dengan lancar tanpa masalah. Tetapi masalahnya akan muncul pada saat kita melakukan editing video:

Audionya menjadi tidak sinkron!

Hal ini sering dikeluhkan oleh mereka yang menggunakan Adobe Premiere Pro sebagai software editing video yang direkam menggunakan smartphone. Karena Adobe Premiere Pro tidak dirancang untuk mengedit video yang memiliki frame rate tidak stabil!

Huh? Software sekelas Adobe Premiere Pro tidak bisa mengedit video dengan frame rate tidak stabil? Jelek amat softwarenya?

Well, saya tidak tahu software editing lain. Tapi adalah suatu yang masuk akal jika sebuah video editing software tidak mendukung untuk mengedit video dengan frame rate tidak stabil. Karena ya, lebih masuk akal mengedit video dengan frame rate stabil/konstan.

Misalnya, kita ingin memasukkan sebuah animasi pada video hasil rekaman kita. Sang animator yang kita sewa sudah membuat animasi dengan 30fps sepanjang 100 detik sesuai dengan yang kita minta. Artinya, secara total kita punya 3.000 frame animasi untuk dimasukkan ke dalam video. Tapi ternyata video yang kita rekam menggunakan smartphone hanya punya 2.456 frame!

Bisa Anda bayangkan bagaimana kalkulasinya?

Jika Anda tanya saya, jawaban saya cuma satu: repot!

Tapi tentu saja, masalah seperti ini sudah ada solusinya. Yaitu menggunakan software bernama HandBrake untuk membuat video kita stabil di 30fps. Tapi untuk melakukan hal tersebut ternyata butuh waktu. Untuk menstabilkan sebuah video dengan durasi 1 jam butuh waktu 2 jam!

Itu semua tergantung kecepatan processor komputer juga sih.

Tapi tetap saja: repot!

Oleh karena itu, saya merasa sudah kenyang dengan proses ‘menstabilkan’ video ini. Maka saya butuh sesuatu yang dari awal bisa merekam dengan frame rate yang stabil. Jawabannya sudah bisa Anda tebak: handycam!

Handycam atau camcorder dirancang khusus untuk merekam video. Oleh karenanya, processor pada handycam juga dirancang khusus untuk merekam video. Maka dari itu sudah pasti processor pada handycam ‘lebih serius’ dalam merekam video tanpa diganggu dengan pekerjaan lain seperti menampilkan pemberitahuan ada pesan WhatsApp yang masuk.

Dengan begitu, frame rate video yang direkam oleh handycam akan stabil dari awal hingga akhir.

Penutup

Waduh, tidak terasa ternyata saya menghabiskan waktu 3 jam untuk membuat poin terakhir. Mudah-mudahan penjelasan poin kita yang terakhir tadi bisa dipahami dengan mudah bagi siapa saja yang membaca blog ini. Karena jujur saja, saya sendiri baru belajar tentang proses editing video ini dan saya menemukan kekurangan perekaman video menggunakan smartphone dengan fps tidak stabil tersebut menjadi sesuatu yang paling mengganggu dalam proses pembuatan video YouTube menggunakan smartphone. Suatu hal yang membuat saya memilih menabung untuk membeli handycam ketimbang menggunakan smartphone yang sudah ada.

Baiklah, semoga artikel ini bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya!

Author: Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!