Jangan Terlalu Banyak Prinsip

Belajar dari pengalaman ngeblog terdahulu, salah satu kesalahan yang saya lakukan adalah: terlalu banyak prinsip.

Ya, pada awal mula ngeblog saya menerapkan terlalu banyak prinsip yang seharusnya tidak perlu ada di dunia ini. Prinsip-prinsip tersebut sebenarnya bagus karena itu akan membantu saya menjadi seorang blogger yang berkarakter. Tapi yaaaa… Prinsip-prinsip yang saya terapkan tidak banyak membantu dalam menjadi blogger yang berkarakter, justru prinsip tersebutlah yang membebani saya sehingga akhirnya menyerah untuk ngeblog.

Setelah saya tidak lagi memikirkan prinsip tersebut, saya menjadi lebih leluasa ngeblog seperti saat ini.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah prinsip-prinsip tersebut?

Berikut saya jabarkan beberapa prinsip-prinsip bodoh yang saya lakukan dahulu kala…

1. Selalu Perbaharui Tulisan dengan Informasi Ter-Update

Khususnya pada artikel tutorial. Saya berprinsip bahwa sebuah tutorial yang baik adalah tutorial yang selalu di-update secara berkala sesuai dengan perkembangan jaman. Contohnya ketika membuat tutorial tentang cara membuat aplikasi Android. Pada awalnya saya membuat tutorial itu dengan menggunakan Eclipse, tetapi karena sekarang untuk membuat aplikasi Android secara resmi adalah menggunakan Android Studio, saya akhirnya termakan prinsip saya sendiri.

Saya pun meng-update tulisan saya dengan informasi baru tersebut. Saya mengganti screenshot-screenshot yang ada di tutorial itu dengan screenshot menggunakan Android Studio. Alih-alih membuat tulisan baru (karena saya merasa tulisan tersebut sudah perfect), saya hanya mengganti beberapa kata agar artikel tersebut menjadi update.

Dan semua itu melelahkan.

Mengapa saya begitu bodoh saat itu? Seharusnya saya buat saja tulisan baru!

2. Informasi Harus Detil dan Akurat

Masuk akal memang jika Anda menulis blog yang berisi informasi yang detil dan akurat. Tetapi sepertinya itu hanya berlaku jika Anda menulis untuk sebuah portal berita misalnya. Jika Anda hanya membuat blog pribadi seperti blog ini, informasi yang Anda berikan tidak perlu harus akurat. Eh?

Contonya dalam penulisan waktu, Anda tidak perlu harus menulis seperti ini:

Pada jam 12:53 WIB saya pergi ke lapangan sepakbola.

Anda bisa menulis seperti ini:

Saya pergi ke lapangan sepakbola pada saat udara panas dan sinar matahari menyengat sehingga membuat saya mempertanyakan alasan saya pergi ke lapangan sepakbola.

Lebih personal, lebih lucu, lebih panjang dan lebih mencerminkan bahwa yang menulis tulisan itu adalah seorang manusia.

3. Artikel Harus Sempurna

Sempurna setidaknya di mata saya sendiri.

Bisa Anda bayangkan, sebelum mengklik tombol Publish, saya biasanya akan membaca ulang artikel yang saya tulis dari awal sampai akhir. Tidak peduli seberapa panjang artikel itu, saya harus memastikan bahwa semuanya sempurna. Tanpa cacat sedikitpun.

Jika saya menemukan sebuah masalah dalam suatu paragraf dan saya merasa bahwa paragraf tersebut harus ditulis ulang agar lebih masuk dengan paragraf berikutnya, maka saya akan menulis ulang paragraf tersebut.

Well, hasilnya memang. Semua artikel yang saya publish adalah artikel yang sempurna.

Tetapi itu pekerjaan yang sangat melelahkan.

Sekarang saya tidak melalukan hal itu lagi. Cukup crosscheck EYD saja dan Publish.

Manusia tidak sempurna. Artikel di blog tidak harus sempurna.

4. Harus Profesional

Walaupun tagline saya adalah “A Professional Procrastinator”, tetapi bukan professional seperti itu yang saya maksud. Profesional dalam artian sebagai seorang jurnalis profesional. Ya, blogger bisa termasuk ke dalam sebuah profesi jurnalistik. Tetapi, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya bukanlah seorang jurnalis profesional.

Ya, maksudnya adalah saya harus menulis dengan bahasa layaknya seorang jurnalis profesional. Yang mana hal tersebut malah membebani saya sendiri.

Well, sekarang hal itu sudah saya jauhi.

Profesional bukan berarti Anda harus berlagak profesional.

5. Artikel Harus Lebih Baik dari Pesaing

Pada blog saya yang gagal terdahulu, saya sangat-sangat memperhatikan persaingan. Saya membaca artikel-artikel dari blog yang saya anggap pesaing saya. Dengan begitu saya bisa membuat artikel yang lebih baik daripada artikel yang dibuat oleh blog pesaing.

Tetapi yang jadi masalah adalah, pesaing saya tidak menganggap saya sebagai pesaingnya.

Lha? Bagaimana mereka bisa menganggap saya sebagai pesaing kalau blog saya saja tidak dikenal?

Oleh karena itu, saya berhenti memikirkan persaingan. Hanya buang-buang waktu saja.

Penutup

Well, sepetinya hanya itu saja prinsip-prinsip yang tidak berguna yang pernah saya terapkan di blog saya terdahulu yang saya ingat. Mungkin jika saya bernostalgia lagi dan menemukan pengalaman yang saya alami ketika ngeblog gagal dulu, pasti akan saya tulis lagi di sini. Untuk sekarang sepertinya sudah cukup untuk memenuhi kuota harian saya. Mari bertemu lagi di artikel selanjutnya!

Author: Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!