Jangan Memaksakan Tulisan

Tulisan ini adalah tentang pengalaman saya menulis artikel monetisasi YouTube yang saya posting di link ini. Saat menulis tulisan itu, pada awalnya saya ingin membuat tulisan bergaya laporan atau berita. Ya seperti yang kita baca di portal-portal berita pada umumnya. Saya ingin terlihat bak seorang jurnalis profesional yang melaporkan kejadian dengan bahasa yang tegas, baku dan efisien.

Setelah menulis berita tersebut sebanyak kira-kira 5 paragraf, saya menyerah.

Alasannya cukup sederhana: saya tiba-tiba sadar bahwa saya bukan seorang jurnalis profesional.

Setelah saya membaca ulang tulisan yang saya buat, saya menyadari bahwa gaya bahasa yang saya gunakan pada tulisan tersebut sangat jauh berbeda dengan gaya bahasa yang saya gunakan di postingan-postingan sebelumnya.

Memang, di blog ini saya menggunakan bahasa yang ‘agak’ formal. Tetapi, ketika menulis laporan atau berita, bahasa yang saya gunakan malah menjadi terlalu formal, kaku dan tidak natural.

Pada awal penulisan artikel tersebut sepertinya saya tidak mengalami kendala, tetapi ketika saya terus menulis dan menulis, saya menjumpai kendala yang pernah saya alami pada blog saya yang gagal dahulu.

Saya menjadi lamban.

Tidak semua yang yang ada di kepala saya bisa saya ungkapkan dengan gaya penulisan yang terlalu formal tersebut. Tidak seperti tulisan yang saya buat saat ini. Yang mana tulisan ini mengalir begitu saja tanpa mengalami hambatan yang berarti. Semuanya mengalir dari kepala saya ke keyboard yang saya gunakan.

Pada saat itulah saya menyadari bahwa gaya penulisan yang saya terapkan pada berita yang saya buat tidak sejalan dengan tujuan saya membuat blog ini.

Saya terlalu memaksakan untuk terlihat seperti jurnalis profesional.

Sebuah kesalahan yang harus saya jauhi mulai dari sekarang.

Saya ingat betul, pada saat membuat tutorial di blog saya terdahulu, saya berusaha menyampaikannya dengan bahasa yang formal agar terlihat bak seorang yang berwawasan luas dan pintar dalam segala hal. Tetapi tidak… Saya hanya menipu diri saya sendiri. Semua orang bisa tahu bahwa saya hanya berpura-pura jika saya memaksakan gaya penulisan seperti blog saya yang gagal dahulu hanya dengan membaca informasi yang saya tuangkan dalam tulisan saya.

Oleh karena itu, saya harus berhenti berpura-pura. Saya harus berhenti memaksakan tulisan saya hanya karena saya ingin terlihat pintar.

Berhenti dari sekarang.

Author: Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!