Hoax Membangun

Karena sudah berkomitmen untuk konsisten membuat tulisan di blog ini, saya mencoba mencari cara baru agar dapat bahan tulisan setiap harinya. Cara tersebut adalah membaca berita sebagai sumber inspirasi. Ya mungkin bagi sebagian orang cara tersebut adalah cara yang sudah kuno dan cara yang ‘ya iyalah’. Tapi hey! Itu cara baru bagi saya.

Bak mimpi yang terwujud jadi kenyataan, saya benar-benar terinspirasi membuat tulisan setelah berkunjung beberapa detik ke detik.com.

Saya membaca berita yang berisi tanggapan seseorang di kursi DPR yang saya tidak perhatikan namanya, menanggapi pernyataan seseorang yang kalau saya tidak salah memiliki jabatan di siber siber atau apalah itu. Intinya orang siber ini berkata bahwa hoax itu boleh-boleh saja asal membangun.

Sontak saya langsung menutup berita tersebut tanpa membaca lebih detail isi berita, karena saya sangat antusias ingin membuat tulisan tentang hal tersebut.

Mengapa? Karena walau membaca sekilas, berita tersebut langsung membawa saya menerawang ke masa lalu di mana saya masih muda dan sekidit lugu. Pada masa itu saya masih meraba-raba tentang dunia internet. Pada saat-saat itulah saya menjadi korban hoax.

Hoax yang saya telan mentah-mentah waktu itu adalah hoax tentang Justin Bieber yang saat itu karirnya sedang menanjak pesat. Di hoax tersebut, diceritakan bahwa Justin Bieber sebenarnya adalah seorang kakek-kakek pedophile yang menyamar menjadi anak remaja dengan menggunakan topeng bak di film-film science fiction. Hoax tersebut terlihat sangat menyakinkan karena dilengkapi dengan video penangkapan kakek tersebut serta video pernyataan resmi dari seseorang yang terlihat sangat menyakinkan saya bahwa dia adalah seorang polisi.

Bukan hoax, saya benar-benar termakan hoax tersebut.

Ditambah, saya merupakan orang yang tidak terlalu peduli dengan Justin Bieber. Satu-satunya alasan saya antusias melahap hoax tersebut adalah karena salah seorang teman saya merupakan fans berat Justin Bieber. Sontak, tanpa berpikir panjang saya mengirim link hoax tersebut ke teman saya si fans Justin Bieber. Saya menertawakan ‘fakta’ tersebut, menertawakan teman saya tersebut, sangat bangga dengan penemuan saya tersebut.

Jika saya bisa kembali ke lalu, maka saya akan kembali ke masa itu dan menampar diri saya waktu itu keras-keras.

Pakai kaki.

Karena yaaaa, hubungan saya dengan teman fans Justin Bieber tersebut sampai saat ini tidak bisa dibilang oke-oke saja. Well, kami tidak bertengkar gara-gara hal itu. Tapi yaaa… begitulah.

Saya merasa malu sekali saat mengetahui berita tersebut adalah hoax. Sayapun tidak tahu apakah teman saya tersebut tahu bahwa berita yang saya gembar-gemborkan kepadanya adalah hoax. Tapi sudah pasti, dia tidak percaya dari awal.

Sejak saat itu saya menjadi lebih berhati-hati dalam memilih berita yang bisa dipercaya. Saya menjadi lebih kritis dalam menanggapi berita yang ada. Saya menjadi lebih baik daripada saya yang sebelumnya sejak termakan hoax tersebut.

Hoax tersebut ‘membangun’ saya.

Lha? Berarti bagus dong kalau hoax membangun?

Tidak.

Pada kenyataannya, tidak semua orang seberuntung saya, termakan hoax yang bisa dibuktikan kenyataannya bahwa hoax tersebut adalah hoax. Video yang saya tonton waktu itu sudah terbukti dibuat oleh studio yang memang biasa membuat berita-berita hoax. Saat saya mengetahui berita tersebut adalah hoax, saya lega. Saya menjadi lebih baik. Saya terbangun karenannya.

Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang termakan hoax yang kebenarannya sulit dibuktikan? Atau malah tidak bisa dibuktikan bahkan tidak bisa dibantah?

Seperti orang yang percaya bahwa pendaratan di Bulan adalah hoax. Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa manusia benar-benar telah mendarat di Bulan? Butuh teleskop yang keterlaluan canggih agar bisa meneropong jejak kaki Neil Armstrong di Bulan. Tapi itu juga akan bisa dibantah dengan hoax lainnya bahwa teleskop tersebut sudah dimanipulasi.

Mungkin satu-satunya cara adalah dengan mengeluarkan jutaan dollar untuk membawa orang-orang yang tidak percaya bahwa manusia pernah ke Bulan ke Bulan. Tapi siapa yang mau mengeluarkan uang demi hal tersebut?

Belum lagi tentang hoax bahwa bumi ini datar (atau hoax tentang bumi ini bulat. Tergantung Anda di team yang mana) yang perdebatannya tidak ada habisnya.

Dan itu adalah hoax yang negatif. Belum hoax yang positif. Hoax positif adalah hoax yang berisi kebaikan agar orang-orang tergerak melakukan hal-hal yang positif demi kebaikan umat manusia. Hoax ini mungkin tidak saya kasih contoh, karena bisa menyinggung perasaan orang yang termakan hoax jenis ini.

Yang pasti, jika seseorang yang sudah termakan hoax seperti ini dan menemukan fakta bahwa yang ia percaya selama ini adalah hoax, maka orang tersebut akan kehilangan rasa percaya.

Sesuatu yang tidak membangun.

Oleh karena itu, saya simpulkan dari pengalaman saya sendiri. Hoax itu tidak membangun. Pada kenyataanya, hoax telah membuang-buang waktu dan energi banyak orang dalam menanggapinya. Percaya atau tidak percaya. Semuanya kena. Orang yang percaya hoax akan bersikeras dengan apa yang ia percaya, orang yang tidak percaya dengan hoax akan berusaha meyakinkan si korban hoax bahwa itu adalah hoax. Keduanya terjerumus pada satu hal yang pasti: buang-buang waktu, tenaga dan pikiran.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran orang siber yang saya sebut di awal tadi. Mungkin setelah ini saya akan membaca lebih detail berita tentang orang tersebut setelah ini.

Atau jangan-jangan, berita yang saya baca adalah hoax?

Author: Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!