Relativity

Fokus Pada Diri Sendiri

fokus-pada-diri-sendiri

Saya adalah fans klub sepakbola Italia, Juventus. Bukan aliran keras sih, tapi cukup membuat saya sekedar menangis tersedu-sedu ketika Juventus dikalahkan Real Madrid pada final Liga Champion tahun lalu.

Kekalahan yang menyakitkan, memang.

Tahun 2015 juga begitu, ketika Juventus dikalahkan Barcelona di Final Liga Champion. Pada pagi hari setelah kekalahan itu saya tidak banyak berbicara. Lebih banyak termenung berandai-andai akan kemenangan Juventus dan meraih treble winner.

Tetapi di waktu kekalahan-kekalahan yang dialami Juventus, saya sama sekali tidak merasa bahwa Juventus telah meraih kegagalan. Sama sekali tidak. Toh, siapa juga yang mau menganggap klub kesayangannya adalah klub yang gagal?

Waktu berlalu dan sekarang Juventus sedang menghadapi persaingan ketat memperebutkan puncak klasemen Serie A bersama Napoli. Sangat ketat. Kedua klub memiliki perbedaan hanya 1 point dan selalu meraih kemenangan di setiap laga.

Tetapi bukan persaingan itu yang membuat saya sampai menulis artikel ini. Setiap kali saya membaca berita tentang komentar penggawa Juventus maupun pelatih tentang ketatnya persaingan memperebutkan puncak klasemen, saya selalu mendengar satu kalimat yang sering mereka ucapkan:

Kami hanya fokus pada diri kami sendiri.

Tidak hanya pada saat ini, menjelang Final Liga Champion 2017 dan 2015 saya juga mendengar:

Kami hanya fokus pada diri kami sendiri.

Bahkan hampir setiap menjelang laga-laga penentu, perwakilan Juventus yang diwawancarai selalu mengucapkan kalimat yang sama:

Kami hanya fokus pada diri kami sendiri.

Tapi tentu saja tidak hanya Juventus, klub-klub lain yang memiliki tujuan yang pasti juga akan berkomentar sama:

Kami hanya fokus pada diri kami sendiri.

Kalimat tersebut membuat saya teringat akan kegagalan-kegagalan saya dahulu. Saya pernah mencoba menulis novel, tetapi saya selalu membandingkan diri saya dan tulisan saya dengan tulisan-tulisan dari novelis yang sudah terkenal. Waktu ngeblog dahulu, saya juga sering membanding-bandingkan blog saya dengan mereka yang sudah sukses.

Saya tidak fokus pada diri saya sendiri.

Memalukan.

Saya sering mendengar mereka-mereka yang telah sukses membangkitkan Juventus dari keterpurukan berkata…

… fokus pada diri sendiri.

Tapi saya sendiri tidak belajar apapun dari kalimat tersebut.

Sejak jaman Antonio Conte saya sudah sering mendengar kalimat…

…fokus pada diri sendiri.

Tapi saya masih membanding-bandingkan apa yang sudah saya capai dengan apa yang telah dicapai oleh orang lain.

Memalukan.

Saya baru sadar akan kalimat itu sekarang. Sudah barang tentu saya akan mengalami kegagalan jika saya terpaku dengan apa yang dilakukan orang lain. Membuat apa yang saya lakukan menjadi tidak pernah terselesaikan. Membuat apa yang saya usahakan tidak pernah menjadi kenyataan. Membuat saya terpuruk dalam kegagalan-kegagalan yang disebabkan oleh diri saya sendiri.

Memalukan.

Tapi saya lega. Akhirnya saya menemukan jawaban konkret mengapa saya selalu gagal.

Sekarang saya bisa menghindari penyebab kegagalan tersebut dan mulai fokus pada diri saya sendiri.

0 Comments

Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!

    Reply your comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked*