Cara Mengatasi Malas Ngeblog

Jika saya melihat postingan-postingan saya sebelumnya, tersirat sebuah rasa bangga akan diri saya sendiri. Ya, karena ini adalah tulisan yang ke 21 selama 21 hari berturut-turut saya ngeblog. Ini adalah pertama kalinya saya melakukan sebuah konsistensi.

Seperti yang sudah pernah saya sebutkan berulang-ulang di postingan saya sebelumnya, saya pernah membuat blog dan gagal. Kegagalan karena banyak alasan. Alasan yang kebanyakan adalah alasan yang saya buat sendiri. Salah satunya adalah karena malas menulis.

Tapi tentu saja, blog saya sekarang juga tidak bisa dikatakan blog yang berhasil. Memang, saya berhasil menjaga runtutan 21 hari berturut-turut. Sebuah keberhasilan kecil yang membuat saya bertanya pada diri saya sendiri: mengapa sekarang saya tidak malas ngeblog?

Oleh karena itu, di bawah ini saya jabarkan poin-poin yang ternyata bisa membuat rasa malas menulis saya hilang.

1. Miliki Target

Target saya di awal tahun 2018 ini adalah selalu konsisten membuat postingan blog. Tetapi konsisten seperti apa? Sekali seminggu? Dua kali seminggu? Karena saya tidak ingin gagal lagi, saya memasang target yang ambisius: satu kali sehari.

Dan sepertinya cara ini berhasil, karena saya tidak pernah melewatkan sehari-pun tanpa ngeblog.

Dengan adanya target sehari sekali dan rentetan yang sudah terkumpul sebanyak 21 hari, saya merasa akan bersalah sekali jika nanti saya tidak ngeblog satu hari saja.

Memang, membuat tulisan setiap hari bukanlah suatu cara yang akan membuat sebuah blog berhasil. Tetapi ini adalah cara untuk membuat blog saya tetap menjadi blog.

2. Tidak Memikirkan Apapun Selain Ngeblog

Pada blog saya dahulu, saya selalu menulis dengan berfokus pada SEO, visitor, kata kunci dan apapun untuk membuat blog saya berhasil. Namun sekarang, saya tidak memikirkan hal itu sama sekali. Bahkan saya sama sekali tidak menginstall plugin wajib bagi blogger WordPress, yaitu Yoast SEO di blog saya. Karena saya tidak ingin lagi tulisan saya terpaku pada SEO dan segala optimisasi lainnya.

Biarlah tulisan saya menjadi tulisan saya yang apa adanya.

Dan jujur saja, walaupun pengunjung blog saya sampai saat ini bisa dikatakan tidak ada, saya merasa lebih bahagia ngeblog dari pada sebelumnya.

3. Blog Personal, Niche Personal

Dahulu tagline blog ini adalah: Blognya gamer, programmer dan blogger.

Terdengar sangat ambisius. Saya membahas tiga niche pada satu blog. Blog yang beralamatkan nama saya sendiri.

Dan itu adalah sebuah kesalahan.

Seharusnya, jika blog Anda adalah nama Anda sendiri, maka isi tentang blog tersebut adalah tentang diri Anda sendiri. Karena pada kenyataannya, Anda sangat tahu tentang diri Anda sendiri. Dengan begitu, Anda tidak akan kehabisan ide dalam membuat tulisan tentang sesuatu yang sudah sangat Anda ketahui: diri Anda sendiri.

Lain halnya jika blog Anda adalah blog khusus yang membahas satu niche, maka pastikan Anda sangat menguasai niche yang Anda bahas dan pastikan juga bahwa niche yang Anda bahas adalah niche yang bisa Anda bahas seumur hidup Anda.

Ah, saya menemukan arti penting dari niche di sini.

4. Biarkan Ide Mengalir

Jika dahulu saya bolak-balik cari ide penulisan, lalu bolak-balik lagi cari keyword yang mantap, maka sekarang saya cuma membiarkan ide datang begitu saja dan langsung mulai menulis.

Ya, ternyata ide itu tidak bisa dipaksakan. Karena hal itu akan membuat Anda sendiri kehabisan ide. Yang perlu Anda lakukan untuk mendapatkan ide adalah membuat suatu tujuan, maka ide akan mengalir begitu saja.

Contohnya tulisan ini. Tujuan saya membuat tulisan ini adalah memberikan tips bagaimana caranya mengatasi malas ngeblog. Cuma itu saja awalnya. Sekarang bisa Anda lihat sendiri dari panjang tulisan ini, ide-ide tentang apa yang akan ditulis bermunculan dengan sendirinya. Saya sama sekali tidak melakukan riset apapun, semuanya mengalir tanpa hambatan dari otak saya ke jari-jari saya yang mengetik tulisan ini.

Juga bisa Anda lihat sendiri kategori tulisan ini adalah Minutes. Artinya saya menyelesaikan tulisan ini dalam beberapa menit saja. Tidak sampai satu jam. Dan saya tidak akan berbohong akan penentuan ketegori tersebut.

Oleh karena itu, jika Anda merasa kesulitan menemukan ide penulisan. Caranya mudah saja, tetapkan suatu tujuan kecil dan biarkan ide-ide mengalir dengan sendirinya.

5. Blog Saya adalah Tulisan Saya

Lha? Kan seharusnya memang begitu?

Well…

Pada kenyataannya, banyak blogger di luar sana yang tidak menjadi dirinya sendiri. Semua orang memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda satu sama lain. Setiap orang memiliki suatu keunikan. Tetapi, banyak orang yang memilih untuk terlihat sama dengan orang lain.

Maksud saya adalah, Anda tentunya pernah membaca berita-berita di internet. Berita-berita tersebut dibuat oleh seorang jurnalis, menggunakan bahasa Indonesia yang baku, sehingga berita yang dibuat terkesan lebih profesional. Tetapi ternyata hal ini mempengaruhi gaya penulisan seorang blogger, seperti yang saya alami. Di saat menulis sebuah tulisan tentang suatu hal teraktual, banyak blogger yang memilih menuliskannya dengan gaya seorang jurnalis: menggunakan bahasa formal dan baku. Maka hal itulah yang membuat seorang blogger menjadi malas menulis karena tulisannya akan terkesan dipaksakan. Membosankan. Seperti robot. Mudah di copas. Merasa seperti bekerja di kantor berita, padahal tidak.

Oleh karena itu, bagi Anda yang ngeblog, biarkan saja tulisan yang Anda buat adalah tulisan Anda sendiri. Gaya bahasa Anda sendiri. Sesuatu yang lebih membuat Anda nyaman dari pada meniru gaya orang lain.

Dan ya, gaya penulisan saya adalah seperti ini. Tidak pernah saya paksakan seperti blog saya terhahulu.

Penutup

Well, sekarang sudah jam 23:45. Saya hanya punya 15 menit lagi untuk menyelesaikan tulisan ini. Tapi hey! Tulisan ini sudah selesai.

Harus saya akui bahwa cara mengatasi malas ngeblog yang saya bahas di sini mungkin agak berbeda dengan tips-tips lain yang ditulis oleh mereka yang sudah berpengalaman ngeblog. Tetapi setidaknya ini adalah cara yang saya terapkan sendiri untuk mencapai rentetan 21 hari saya.

Semoga tulisan ini bisa sedikit membantu Anda dalam mengatasi rasa malas ngeblog!

Mengapa Manusia Bisa Kehabisan Ide?

Tulisan kali ini cukup sulit. Sulit karena saya merasa tidak menemukan ide apapun tentang yang akan ditulis. Hal itu membuat saya heran, mengapa bisa begitu? Mengapa saya, seorang manusia bisa kehabisan ide?

Padahal kalau diingat-ingat lagi, suatu hari saya seakan-akan memiliki ide yang tidak terbatas. Atau setidaknya, banyak sekali. Saya pernah suatu hari memiliki banyak ide tentang aplikasi dan game Android. Pernah memiliki ide tentang film, novel, model bisnis bahkan strategi perang.

Tapi mengapa?

Mengapa pada saat tulisan ini diketik saya benar-benar kehabisan ide. Sampai-sampai saya harus menulis tentang kehabisan ide itu sendiri.

Apakah manusia perlu sebuah makanan khusus untuk bisa memunculkan ide-ide cemerlang?

Mungkin.

Apakah manusia perlu dalam keadaan mood tertentu agar ide-ide bermunculan?

Mungkin.

Aneh, semakin banyak saya mengetikkan kata-kata di artikel ini, perlahan-lahan saya menemukan jawaban akan pertanyaan saya sendiri.

Manusia butuh suatu tujuan agar bisa memunculkan ide.

Ya, itulah jawaban yang keluar dari pikiran saya beberapa detik lalu. Tapi mari kita analisa sedikit jawaban yang muncul entah dari mana tersebut.

Anggaplah sekarang saya membuat tulisan ini karena saya tidak ingin membuat rentetan artikel di blog ini berhenti. Saya tidak ingin melewatkan satu hari-pun tanpa menulis artikel. Jika saya tidak menulis satu hari saja, saya takut akan muncul hari-hari lainnya di mana saya tidak menulis artikel.

Ketakutan tersebut membuat saya berpikir, “Ah, buat saja artikel tentang kehabisan ide. Pendek saja, yang penting ada”. Tetapi kenyataannya, saya malah menemukan suatu ide dari kegiatan menulis ini. Saya menemukan jawaban mengapa manusia bisa kehabisan ide.

Manusia kehabisan ide jika ia tidak punya tujuan!

Tujuan saya membuat artikel ini adalah mencari jawaban mengapa manusia bisa kehabisan ide. Dengan begitu barulah muncul ide mengapa manusia kehabisan ide!

Serta ide tentang bagaimana agar kehabisan ide tidak terjadi lagi!

Ya! Untuk bisa menghasilkan ide, kita sebagai manusia butuh tujuan. Sekarang di samping saya ada sebuah korek api Zippo. Jika saya memantapkan tujuan saya untuk menulis artikel tentang Zippo di blog ini, saya bisa membuat tulisan yang panjang sekali tentang seluk beluk Zippo di blog ini!

Wow, jujur saja. Saat ini saya sudah memiliki banyak ide-ide yang muncul entah dari mana. Secepatnya saya akan membuat draft tentang ide-ide tersebut. Sepertinya bukan makanan atau mood yang bisa menunculkan ide. Tetapi sebuah tujuan yang pasti, maka ide akan muncul.

Luar biasa.

Membuat Tulisan yang Tak Dibaca

Saat ini, sejak mereset ulang blog ini, pengunjung blog ini adalah 0 orang perhari. Cukup rendah menurut saya. Maka di saat inilah kegiatan menulis blog terasa sedikit aneh. Karena saya pada dasarnya membuat tulisan yang tidak ada yang membaca.

Atau mungkin tidak aneh? Karena membuat diary memiliki konsep yang sama.

Oh, saya tidak pernah menulis diary.

Namun, hal baiknya adalah saya sama sekali tidak terbebani menulis blog setiap hari. Mungkin ini yang namanya kebebasan menulis. Kita bisa menulis apa saja yang kita inginkan tanpa memikirkan apa kata orang lain atau memikirkan segala trik-trik ngeblog yang terkadang hanya intrik belaka.

Tanpa memikirkan SEO, tanpa memikirkan banyak pengunjung, tanpa memikirkan popularitas, tanpa memikirkan niche.

Bebas.

Tapi mungkin juga ini adalah proses menjadi seorang penulis. Penulis yang baik dan benar. Penulis yang kerjanya menulis apa yang ada dipikirannya tanpa terkekang oleh suatu apapun.

Ah,ya. Saya pernah bercita-cita menjadi penulis novel. Saya punya konsep novel yang saya buat beberapa tahun yang lalu di suatu tempat di hardisk atau Google Drive saya.

Mungkin nanti saya cari dan mempostingnya di sini.

Tapi kini saya ingin menikmati menulis bebas dulu.

Tidak banyak orang yang sukses dengan menulis bebas tho…

Mencari Passion

Sayang sekali sampai saat ini saya masih belum menemukan passion saya. Sedikit membuat frustasi. Frustasi yang timbul saat saya melihat orang-orang yang sudah menemukan passion-nya di usia muda. Melakukan hal yang mereka senangi sepanjang hidup mereka, tidak pernah lelah melakukannya, bahagia karenanya, bahkan mendapatkan uang darinya.

Siapa yang tidak iri melihat orang-orang yang demikian?

“Follow Your Passion”

Kata mereka.

Terdengar menyenangkan.

Kata saya.

Yang jadi masalah adalah menemukan passion itu sendiri.

Bagi Anda yang tidak tahu, passion mudahnya adalah suatu hal yang tidak pernah lelah Anda kerjakan berulang-ulang kali dalam hidup Anda.

Seperti bernafas?

Well, bernafas kadang bikin lelah. Terlebih saat pilek.

Suatu pekerjaan yang membuat Anda lupa waktu, lupa makan, lupa keluarga.

Seperti main game?

Oh, itu kecanduan.

Ah, seperti menulis blog misalnya. Seorang blogger yang memiliki passion menulis, akan terbaca dalam setiap tulisannya bahwa ia benar – benar menikmati kegiatan menulis blognya.

Tidak seperti tulisan saya tentunya.

Karena bisa dilihat sendiri, ngeblog bukan passion saya. Saya a sudah beberapa kali gagal ngeblog karena sepertinya saya tidak menikmati membuat postingan blog.

Tapi mengingat ini adalah postingan saya yang ke 5 hari berturut-turut, apakah ngeblog adalah passion saya?

Hoax Membangun

Karena sudah berkomitmen untuk konsisten membuat tulisan di blog ini, saya mencoba mencari cara baru agar dapat bahan tulisan setiap harinya. Cara tersebut adalah membaca berita sebagai sumber inspirasi. Ya mungkin bagi sebagian orang cara tersebut adalah cara yang sudah kuno dan cara yang ‘ya iyalah’. Tapi hey! Itu cara baru bagi saya.

Bak mimpi yang terwujud jadi kenyataan, saya benar-benar terinspirasi membuat tulisan setelah berkunjung beberapa detik ke detik.com.

Saya membaca berita yang berisi tanggapan seseorang di kursi DPR yang saya tidak perhatikan namanya, menanggapi pernyataan seseorang yang kalau saya tidak salah memiliki jabatan di siber siber atau apalah itu. Intinya orang siber ini berkata bahwa hoax itu boleh-boleh saja asal membangun.

Sontak saya langsung menutup berita tersebut tanpa membaca lebih detail isi berita, karena saya sangat antusias ingin membuat tulisan tentang hal tersebut.

Mengapa? Karena walau membaca sekilas, berita tersebut langsung membawa saya menerawang ke masa lalu di mana saya masih muda dan sekidit lugu. Pada masa itu saya masih meraba-raba tentang dunia internet. Pada saat-saat itulah saya menjadi korban hoax.

Hoax yang saya telan mentah-mentah waktu itu adalah hoax tentang Justin Bieber yang saat itu karirnya sedang menanjak pesat. Di hoax tersebut, diceritakan bahwa Justin Bieber sebenarnya adalah seorang kakek-kakek pedophile yang menyamar menjadi anak remaja dengan menggunakan topeng bak di film-filmĀ science fiction. Hoax tersebut terlihat sangat menyakinkan karena dilengkapi dengan video penangkapan kakek tersebut serta video pernyataan resmi dari seseorang yang terlihat sangat menyakinkan saya bahwa dia adalah seorang polisi.

Bukan hoax, saya benar-benar termakan hoax tersebut.

Ditambah, saya merupakan orang yang tidak terlalu peduli dengan Justin Bieber. Satu-satunya alasan saya antusias melahap hoax tersebut adalah karena salah seorang teman saya merupakan fans berat Justin Bieber. Sontak, tanpa berpikir panjang saya mengirim link hoax tersebut ke teman saya si fans Justin Bieber. Saya menertawakan ‘fakta’ tersebut, menertawakan teman saya tersebut, sangat bangga dengan penemuan saya tersebut.

Jika saya bisa kembali ke lalu, maka saya akan kembali ke masa itu dan menampar diri saya waktu itu keras-keras.

Pakai kaki.

Karena yaaaa, hubungan saya dengan teman fans Justin Bieber tersebut sampai saat ini tidak bisa dibilang oke-oke saja. Well, kami tidak bertengkar gara-gara hal itu. Tapi yaaa… begitulah.

Saya merasa malu sekali saat mengetahui berita tersebut adalah hoax. Sayapun tidak tahu apakah teman saya tersebut tahu bahwa berita yang saya gembar-gemborkan kepadanya adalah hoax. Tapi sudah pasti, dia tidak percaya dari awal.

Sejak saat itu saya menjadi lebih berhati-hati dalam memilih berita yang bisa dipercaya. Saya menjadi lebih kritis dalam menanggapi berita yang ada. Saya menjadi lebih baik daripada saya yang sebelumnya sejak termakan hoax tersebut.

Hoax tersebut ‘membangun’ saya.

Lha? Berarti bagus dong kalau hoax membangun?

Tidak.

Pada kenyataannya, tidak semua orang seberuntung saya, termakan hoax yang bisa dibuktikan kenyataannya bahwa hoax tersebut adalah hoax. Video yang saya tonton waktu itu sudah terbukti dibuat oleh studio yang memang biasa membuat berita-berita hoax. Saat saya mengetahui berita tersebut adalah hoax, saya lega. Saya menjadi lebih baik. Saya terbangun karenannya.

Tetapi bagaimana dengan orang-orang yang termakan hoax yang kebenarannya sulit dibuktikan? Atau malah tidak bisa dibuktikan bahkan tidak bisa dibantah?

Seperti orang yang percaya bahwa pendaratan di Bulan adalah hoax. Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa manusia benar-benar telah mendarat di Bulan? Butuh teleskop yang keterlaluan canggih agar bisa meneropong jejak kaki Neil Armstrong di Bulan. Tapi itu juga akan bisa dibantah dengan hoax lainnya bahwa teleskop tersebut sudah dimanipulasi.

Mungkin satu-satunya cara adalah dengan mengeluarkan jutaan dollar untuk membawa orang-orang yang tidak percaya bahwa manusia pernah ke Bulan ke Bulan. Tapi siapa yang mau mengeluarkan uang demi hal tersebut?

Belum lagi tentang hoax bahwa bumi ini datar (atau hoax tentang bumi ini bulat. Tergantung Anda di team yang mana) yang perdebatannya tidak ada habisnya.

Dan itu adalah hoax yang negatif. Belum hoax yang positif. Hoax positif adalah hoax yang berisi kebaikan agar orang-orang tergerak melakukan hal-hal yang positif demi kebaikan umat manusia. Hoax ini mungkin tidak saya kasih contoh, karena bisa menyinggung perasaan orang yang termakan hoax jenis ini.

Yang pasti, jika seseorang yang sudah termakan hoax seperti ini dan menemukan fakta bahwa yang ia percaya selama ini adalah hoax, maka orang tersebut akan kehilangan rasa percaya.

Sesuatu yang tidak membangun.

Oleh karena itu, saya simpulkan dari pengalaman saya sendiri. Hoax itu tidak membangun. Pada kenyataanya, hoax telah membuang-buang waktu dan energi banyak orang dalam menanggapinya. Percaya atau tidak percaya. Semuanya kena. Orang yang percaya hoax akan bersikeras dengan apa yang ia percaya, orang yang tidak percaya dengan hoax akan berusaha meyakinkan si korban hoax bahwa itu adalah hoax. Keduanya terjerumus pada satu hal yang pasti: buang-buang waktu, tenaga dan pikiran.

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran orang siber yang saya sebut di awal tadi. Mungkin setelah ini saya akan membaca lebih detail berita tentang orang tersebut setelah ini.

Atau jangan-jangan, berita yang saya baca adalah hoax?