Kamera Murah Berkualitas Buat Bikin Video YouTube 2018

Anda ingin memulai sebuah channel YouTube di tahun 2018 ini? Sama. Anda ingin memiliki konten berkualitas untuk menerjang peraturan ketat YouTube di tahun ini?? Samaaa. Anda tidak punya budget berlimpah untuk membeli kamera sekelas Arri Alexa??? SAMAAAAAA…

Well, dengan adanya aturan monetisasi baru dari YouTube, mengelola sebuah channel YouTube baru akan menjadi tantangan besar. Terlebih bagi Anda yang memiliki budget terbatas. Seperti saya.

Oleh karena itu, sama seperti Anda, sayapun melakukan pencarian tentang kamera murah berkualitas yang bagus untuk membuat video YouTube. Saya membaca banyak artikel yang saya temukan dari hasil pencarian saya. Dari artikel-artikel tersebut saya mendapatkan sebuah kesimpulan: mending bikin artikel sendiri.

Kenapa begitu? Jujur saja, saya merasa banyak penulis artikel-artikel tersebut sepertinya tidak memiliki pemahaman yang sama dengan saya tentang pengertian “murah dan berkualitas”.

Beberapa beranggapan bahwa kamera seharga 5 jutaan adalah kamera murah. Well, tentu saja setiap orang memiliki ketebalan dompet yang berbeda untuk bisa berpendapat bahwa 5 juta itu murah. Tetapi, jika Anda meminta pendapat dompet saya, maka dompet saya akan memilih diam seribu bahasa.

Sebagian lagi beranggapan bahwa kamera dengan merek yang entah datang dari mana, dengan spesifikasi dipertanyakan, dengan embel-embel tidak jelas, service entah bagaimana, tetapi memiliki harga di bawah 1 jutaan, maka itu bisa dibilang kamera murah.

Ya, memang murah. Tapi murahan.

Maka dari itu, jika Anda bertanya kepada saya dan dompet saya tentang kamera murah berkualitas yang pantas digunakan sebagai kamera untuk membuat video YouTube berkualitas di tahun 2018 ini, maka saya hanya memiliki 2 kriteria untuk tipe kamera tersebut. 2 kriteria itu adalah:

  • Bisa merekam FullHD dalam 30fps.
  • Harga Maksimal Rp 2.500.000,-

Oleh karena itu, siapkan diri Anda karena di bawah ini sudah saya sadur dari hasil pencarian saya selama lebih dari 4 jam, kamera-kamera murah dan berkualitas terbaik yang bisa Anda beli untuk membuat video YouTube di tahun 2018 yang memenuhi 2 kriteria yang saya sebutkan di atas!

1. Xiaomi Yi

Tidak bisa dipungkiri bahwa Xiaomi Yi merupakan kamera murah dan berkualitas yang bisa Anda andalkan untuk membuat video YouTube. Harganya sekitar 1 jutaan dan bisa merekam FullHD di 60fps. Saya sendiri pernah memiliki kamera ini untuk saya gunakan sebagai kamera latihan. Hasil videonya juga bisa dibilang cukup bagus dalam pencahayaan yang cukup.

Tetapi kamera ini memiliki 1 kekurangan yang mungkin hanya berlaku untuk saya saja: lensa wide-nya akan membuat orang terlihat lebih kurus dari aslinya.

Bagi sebagian orang mungkin itu adalah hal yang bagus. Tapi bagi saya yang memiliki badan sudah kurus ini, merekam diri saya sendiri menggunakan wide-lensnya Xiaomi Yi, membuat saya terlihat seperti orang yang tidak makan lebih dari sebulan.

Selain itu karena sudah sifatnya wide-lens, jika Anda merekam wajah Anda berhadapan langsung ke kamera, maka hidung Anda akan terlihat lebih besar dari pada seharusnya. Sekali lagi, hidung saya juga sudah cukup besar, jadi sepertinya saya tidak perlu kamera dengan wide-lens se-ekstrem kamera action seperti Xiaomi Yi lagi.

Karena alasan tersebut kamera Xiaomi Yi saya, saya jual.

Tapi hey! Jika Anda berencana membuat video di alam bebas, merekam aksi-aksi yang keren, merekam pemandangan dan merekam aktivitas Anda sehari-sehari di luar ruangan, maka Xiaomi Yi akan menjadi kamera yang sempurna untuk itu!

Kisaran Harga: Rp 1.000.000,- (tanpa aksesoris)

Kelebihan:

  • Harga bersahabat
  • Software dan firmware selalu di-update
  • Banyak aksesoris dengan harga terjangkau
  • Hasil video cukup memuaskan

Kekurangan:

  • Wide-lens membuat badan Anda terlihat lebih kurus dan hidung Anda terlihat lebih besar

2. Sony HDR-CX405

Ini merupakan kamera atau handycam atau camcorder yang cukup banyak digunakan oleh para youtubers. Karena harganya yang cukup terjangkau dan memiliki hasil rekaman yang berkualitas di resolusi FullHD.

Saya tidak memiliki kamera ini, tetapi dari hasil pengamatan saya melalui video test di YouTube, kamera ini memang memiliki hasil rekaman yang bagus. Anda boleh lihat sendiri.

Tetapi ketika saya mencoba mendownload dan membaca user manual kamera ini saya menemukan sebuah kekurangan. Kamera ini ternyata minim fitur. Tidak seperti kamera yang akan kita bahas selanjutnya.

Walaupun minim fitur, kamera ini sudah mencukupi untuk membuat video berkualitas di YouTube.

Kisaran Harga: Rp 2.350.000,-

Kelebihan:

  • Hasil rekaman berkualitas
  • Harga baterai terjangkau

Kekurangan:

  • Minim fitur

3. Panasonic HC-V180

Nah, ini dia kamera yang saya rasa sangat cocok sekali untuk memenuhi semua kebutuhan youtuber pemula. Harganya tidak jauh berbeda dengan Sony HDR-CX405 yang kita bahas sebelumnya, bahkan lebih murah. Tetapi kamera ini memiliki lebih banyak fitur (dari yang saya baca di user manual).

Fitur seperti apa?

Fitur seperti time-lapse, macro, miniature effect, manual recording dengan manual focus dan banyak lagi. Walaupun hasilnya saya rasa tidak akan sebagus kamera DSLR, tetapi dengan fitur-fitur seperti itu Anda bisa memulai mengembangkan kreatifitas Anda sebagai seorang filmmaker. Dan tentu saja, Anda bisa melihat hasil video menggunakan fitur di Panasonic HC-V180 ini di YouTube.

Pada kenyataannya, saya sudah memesan kamera ini untuk saya gunakan di video saya nantinya. Kamera ini akan datang beberapa hari lagi dan bisa kita lihat bagaimana hasilnya.

Kisaran Harga: Rp 2.200.000,-

Kelebihan:

  • Zoom mengagumkan
  • Banyak fitur bermanfaat untuk filmmaker pemula

Kekurangan

  • Harga baterai cukup mahal

Penutup

Cukup disayangkan bahwa pencarian saya selama 4 jam hanya bisa menemukan 3 kamera yang murah dan berkualitas di bawah Rp 2.500.000. Memang pada rentang harga segitu kita masih bisa menemukan kamera pocket dari brand ternama dalam rentang harga Rp 1.500.000. Tetapi kamera pocket yang saya temukan pada rentang harga segitu hanya bisa merekam di resolusi HD 1280×720. Sebuah investasi yang tanggung. Karena dengan menambahkan beberapa ratus ribu lagi, Anda bisa mendapatkan kamera FullHD seperti Sony HDR-CX405 atau Panasonic HC-V180.

Selain itu Sony HDR-CX405 dan Panasonic HC-V180 adalah camcorder yang mana memiliki hasil lebih baik dalam merekam video daripada kamera pocket. Bagusnya, ke-dua camcorder yang kita bahas di atas memiliki layar flip-screen sehingga sangat memudahkan Anda membuat video YouTube seperti daily vlog.

Baiklah, semoga artikel ini membantu Anda dalam menetapkan pilihan kamera yang akan Anda gunakan untuk membuat video YouTube Anda. Memang, artikel ini tidak lengkap dan kurang mendalam. Tetap saya bisa jamin, ke-tiga kamera yang saya sebutkan di atas adalah kamera yang bisa Anda andalkan dalam membuat video YouTube walau dengan budget terbatas.

Jangan Terlalu Banyak Prinsip

Belajar dari pengalaman ngeblog terdahulu, salah satu kesalahan yang saya lakukan adalah: terlalu banyak prinsip.

Ya, pada awal mula ngeblog saya menerapkan terlalu banyak prinsip yang seharusnya tidak perlu ada di dunia ini. Prinsip-prinsip tersebut sebenarnya bagus karena itu akan membantu saya menjadi seorang blogger yang berkarakter. Tapi yaaaa… Prinsip-prinsip yang saya terapkan tidak banyak membantu dalam menjadi blogger yang berkarakter, justru prinsip tersebutlah yang membebani saya sehingga akhirnya menyerah untuk ngeblog.

Setelah saya tidak lagi memikirkan prinsip tersebut, saya menjadi lebih leluasa ngeblog seperti saat ini.

Lalu yang menjadi pertanyaannya adalah: Apakah prinsip-prinsip tersebut?

Berikut saya jabarkan beberapa prinsip-prinsip bodoh yang saya lakukan dahulu kala…

1. Selalu Perbaharui Tulisan dengan Informasi Ter-Update

Khususnya pada artikel tutorial. Saya berprinsip bahwa sebuah tutorial yang baik adalah tutorial yang selalu di-update secara berkala sesuai dengan perkembangan jaman. Contohnya ketika membuat tutorial tentang cara membuat aplikasi Android. Pada awalnya saya membuat tutorial itu dengan menggunakan Eclipse, tetapi karena sekarang untuk membuat aplikasi Android secara resmi adalah menggunakan Android Studio, saya akhirnya termakan prinsip saya sendiri.

Saya pun meng-update tulisan saya dengan informasi baru tersebut. Saya mengganti screenshot-screenshot yang ada di tutorial itu dengan screenshot menggunakan Android Studio. Alih-alih membuat tulisan baru (karena saya merasa tulisan tersebut sudah perfect), saya hanya mengganti beberapa kata agar artikel tersebut menjadi update.

Dan semua itu melelahkan.

Mengapa saya begitu bodoh saat itu? Seharusnya saya buat saja tulisan baru!

2. Informasi Harus Detil dan Akurat

Masuk akal memang jika Anda menulis blog yang berisi informasi yang detil dan akurat. Tetapi sepertinya itu hanya berlaku jika Anda menulis untuk sebuah portal berita misalnya. Jika Anda hanya membuat blog pribadi seperti blog ini, informasi yang Anda berikan tidak perlu harus akurat. Eh?

Contonya dalam penulisan waktu, Anda tidak perlu harus menulis seperti ini:

Pada jam 12:53 WIB saya pergi ke lapangan sepakbola.

Anda bisa menulis seperti ini:

Saya pergi ke lapangan sepakbola pada saat udara panas dan sinar matahari menyengat sehingga membuat saya mempertanyakan alasan saya pergi ke lapangan sepakbola.

Lebih personal, lebih lucu, lebih panjang dan lebih mencerminkan bahwa yang menulis tulisan itu adalah seorang manusia.

3. Artikel Harus Sempurna

Sempurna setidaknya di mata saya sendiri.

Bisa Anda bayangkan, sebelum mengklik tombol Publish, saya biasanya akan membaca ulang artikel yang saya tulis dari awal sampai akhir. Tidak peduli seberapa panjang artikel itu, saya harus memastikan bahwa semuanya sempurna. Tanpa cacat sedikitpun.

Jika saya menemukan sebuah masalah dalam suatu paragraf dan saya merasa bahwa paragraf tersebut harus ditulis ulang agar lebih masuk dengan paragraf berikutnya, maka saya akan menulis ulang paragraf tersebut.

Well, hasilnya memang. Semua artikel yang saya publish adalah artikel yang sempurna.

Tetapi itu pekerjaan yang sangat melelahkan.

Sekarang saya tidak melalukan hal itu lagi. Cukup crosscheck EYD saja dan Publish.

Manusia tidak sempurna. Artikel di blog tidak harus sempurna.

4. Harus Profesional

Walaupun tagline saya adalah “A Professional Procrastinator”, tetapi bukan professional seperti itu yang saya maksud. Profesional dalam artian sebagai seorang jurnalis profesional. Ya, blogger bisa termasuk ke dalam sebuah profesi jurnalistik. Tetapi, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, saya bukanlah seorang jurnalis profesional.

Ya, maksudnya adalah saya harus menulis dengan bahasa layaknya seorang jurnalis profesional. Yang mana hal tersebut malah membebani saya sendiri.

Well, sekarang hal itu sudah saya jauhi.

Profesional bukan berarti Anda harus berlagak profesional.

5. Artikel Harus Lebih Baik dari Pesaing

Pada blog saya yang gagal terdahulu, saya sangat-sangat memperhatikan persaingan. Saya membaca artikel-artikel dari blog yang saya anggap pesaing saya. Dengan begitu saya bisa membuat artikel yang lebih baik daripada artikel yang dibuat oleh blog pesaing.

Tetapi yang jadi masalah adalah, pesaing saya tidak menganggap saya sebagai pesaingnya.

Lha? Bagaimana mereka bisa menganggap saya sebagai pesaing kalau blog saya saja tidak dikenal?

Oleh karena itu, saya berhenti memikirkan persaingan. Hanya buang-buang waktu saja.

Penutup

Well, sepetinya hanya itu saja prinsip-prinsip yang tidak berguna yang pernah saya terapkan di blog saya terdahulu yang saya ingat. Mungkin jika saya bernostalgia lagi dan menemukan pengalaman yang saya alami ketika ngeblog gagal dulu, pasti akan saya tulis lagi di sini. Untuk sekarang sepertinya sudah cukup untuk memenuhi kuota harian saya. Mari bertemu lagi di artikel selanjutnya!

Jangan Memaksakan Tulisan

Tulisan ini adalah tentang pengalaman saya menulis artikel monetisasi YouTube yang saya posting di link ini. Saat menulis tulisan itu, pada awalnya saya ingin membuat tulisan bergaya laporan atau berita. Ya seperti yang kita baca di portal-portal berita pada umumnya. Saya ingin terlihat bak seorang jurnalis profesional yang melaporkan kejadian dengan bahasa yang tegas, baku dan efisien.

Setelah menulis berita tersebut sebanyak kira-kira 5 paragraf, saya menyerah.

Alasannya cukup sederhana: saya tiba-tiba sadar bahwa saya bukan seorang jurnalis profesional.

Setelah saya membaca ulang tulisan yang saya buat, saya menyadari bahwa gaya bahasa yang saya gunakan pada tulisan tersebut sangat jauh berbeda dengan gaya bahasa yang saya gunakan di postingan-postingan sebelumnya.

Memang, di blog ini saya menggunakan bahasa yang ‘agak’ formal. Tetapi, ketika menulis laporan atau berita, bahasa yang saya gunakan malah menjadi terlalu formal, kaku dan tidak natural.

Pada awal penulisan artikel tersebut sepertinya saya tidak mengalami kendala, tetapi ketika saya terus menulis dan menulis, saya menjumpai kendala yang pernah saya alami pada blog saya yang gagal dahulu.

Saya menjadi lamban.

Tidak semua yang yang ada di kepala saya bisa saya ungkapkan dengan gaya penulisan yang terlalu formal tersebut. Tidak seperti tulisan yang saya buat saat ini. Yang mana tulisan ini mengalir begitu saja tanpa mengalami hambatan yang berarti. Semuanya mengalir dari kepala saya ke keyboard yang saya gunakan.

Pada saat itulah saya menyadari bahwa gaya penulisan yang saya terapkan pada berita yang saya buat tidak sejalan dengan tujuan saya membuat blog ini.

Saya terlalu memaksakan untuk terlihat seperti jurnalis profesional.

Sebuah kesalahan yang harus saya jauhi mulai dari sekarang.

Saya ingat betul, pada saat membuat tutorial di blog saya terdahulu, saya berusaha menyampaikannya dengan bahasa yang formal agar terlihat bak seorang yang berwawasan luas dan pintar dalam segala hal. Tetapi tidak… Saya hanya menipu diri saya sendiri. Semua orang bisa tahu bahwa saya hanya berpura-pura jika saya memaksakan gaya penulisan seperti blog saya yang gagal dahulu hanya dengan membaca informasi yang saya tuangkan dalam tulisan saya.

Oleh karena itu, saya harus berhenti berpura-pura. Saya harus berhenti memaksakan tulisan saya hanya karena saya ingin terlihat pintar.

Berhenti dari sekarang.

YouTube Memperketat Aturan Monetisasi

Hari ini saya mendapat sebuah email yang sepertinya sangat penting. Bisa saya pastikan email penting karena judul email tersebut adalah Important updates to the YouTube Partner Program. Email tersebut dikirim oleh no-reply@youtube.com, jadi saya bisa pastikan juga itu email asli dari YouTube.

Dalam email tersebut terdapat sebuah pemberitahuan penting akan sebuah pemberitahuan penting lainnya yang dapat saya buka pada link yang diberikan. Karena kebetulan hari ini saya tidak memiliki pekerjaan lain untuk dikerjakan, saya memilih untuk membaca pemberitahuan penting di link tersebut.

Isinya membuat saya terpana.

Intinya adalah: YouTube memperketat aturan monetisasi. Lebih ketat dari sebelumnya.

Link yang diberikan oleh email yang saya terima bisa Anda lihat di sini.

Dalam postingan blog yang cukup panjang tersebut dikatakan bahwa untuk ikut serta dalam YouTube Partner Program (baca: untuk ikut serta menghasilkan uang dari YouTube dengan menampilkan iklan di video Anda), sebuah channel wajib memiliki 4.000 watchtime dalam 12 bulan terakhir dan 1.000 subscriber.

Ya, Anda boleh baca lagi kalimat di atas jika Anda kurang yakin.

Jika sebelumnya syarat untuk ikut serta YouTube Partner Program (YPP) adalah video di channel Anda minimal harus memiliki 10.000 views sejak channel itu dibentuk, maka sekarang video-video di channel Anda harus ditonton sebanyak 4.000 jam dalam 12 bulan terakhir DAN channel Anda harus memiliki setidaknya 1.000 subscriber.

Sebuah kebijakan yang saya sendiri tidak tahu harus berkata apa.

Di satu sisi, peraturan tersebut akan sangat membantu dalam mengurangi channel-channel ‘sampah’ yang bertebaran di YouTube. Channel-channel yang tujuan utamanya adalah menghasilkan uang dari YouTube. Tanpa memikirkan subscriber atau kualitas konten. Yang penting adalah: klik, iklan muncul di awal video dan dolar mengalir ke rekening.

Selain itu, peraturan ini juga akan membuat aksi ‘mengemis subscriber’ tidak efektif lagi. Karena walaupun sebuah channel sudah memenuhi syarat pertama, yaitu 1.000 subscribers, tapi subscribers-nya ternyata tidak pernah menonton video di channel tersebut, maka syarat kedua yaitu waktu tonton 4.000 jam tidak terpenuhi (karena biasanya mereka yang mengemis subscriber jarang memiliki video berkualitas untuk ditonton). Dengan begitu, channel tersebut tidak bisa menampilkan iklan.

Kecuali jika si pemilik channel benar-benar menjadi seorang youtuber murni karena hobi.

Di sisi lain, peraturan ini akan sangat memberatkan mereka yang baru merintis channel YouTube. Karena dengan konten original, mencapai angka 10.000 views saja sudah sangat sulit. Apalagi dengan peraturan baru ini.

Karena yaaaa untuk mendapatkan subscribers setia yang benar-benar akan menonton video yang Anda buat, Anda harus memiliki konten yang original.

Bukan hasil re-upload.

Dengan peraturan yang tergolong ketat tersebut, maka bisa dipastikan akan banyak orang-orang yang ingin menjadi youtuber, harus berpikir ulang. Karena butuh perjuangan ekstra untuk bisa menikmati hasil jerih payah yang dilakukan dalam membangun sebuah channel YouTube. Tapi tentu saja, di masa depan mungkin kita akan melihat lebih sedikit video-video yang hanya mengejar pendapatan, sehingga muncullah video-video yang lebih berkualitas.

Khususnya video-video buatan creator dari Indonesia.

Semoga.

Jangan Biarkan Tulisanmu Dikekang

Pada postingan pertama saya di blog ini, saya menulis tentang kegagalan ngeblog yang saya alami sebelumnya. Saya merasa ngeblog itu adalah sesuatu yang sulit, sesuatu yang tidak mudah, sesuatu yang banyak menghabiskan waktu dan pikiran.

Tetapi jika diingat-ingat lagi, sebenarnya apa yang membuat ngeblog terasa seperti pekerjaan yang melelahkan?

Blog saya sebelumnya berisi tentang tutorial membuat aplikasi Android, pemrograman dan berbagai informasi tentang dunia teknologi. Sebuah bidang yang cukup saya kuasai.

Menulis tentang topik yang Anda kuasai tentu bukan hal yang sulit, bukan?

Tetapi, mengapa pada kenyataannya hal tersebut terasa sulit?

Saya benar-benar ingat, untuk membuat sebuah postingan tutorial membutuhkan waktu setidaknya 3 hari sebelum tulisan itu bisa dipublish. Itu yang tercepat.

Paling lama saya membutuhkan waktu 1 bulan untuk membuat sebuah tutorial.

Pada proses penulisan, saya akan menemukan banyak hal yang seharusnya tidak perlu saya pikirkan. Seperti SEO, persaingan, kata kunci, jumlah kata, meta-tag dan lain sebagainya.

Apakah itu yang membuat saya merasa terkekang?

Sepertinya iya.

Setiap akan membuat paragraf baru di tulisan tutorial, saya selalu berpikir keras. Apa kira-kira kalimat yang cocok? Apakah saya perlu menyelipkan humor di sini? Apakah saya perlu mencantumkan informasi yang jarang orang ketahui agar saya terlihat lebih pintar?

Sudah barang tentu hal tersebut menjadi hal yang melelahkan. Jika sudah merasa lelah, saya memilih untuk beristirahat.

Istirahat yang biasa dilakukan seorang procrastinator. Browsing meme hingga lupa dengan tulisan yang dibuat.

Lupa tujuan hidup.

Namun, menjadi hal yang melegakan saya setelah saya memilih untuk memulai semuanya dari awal. Tanpa memikirkan SEO, tanpa memikirkan keyword, tanpa memikirkan semua hal yang hanya dipikirkan oleh blogger profesional.

Karena saya bukan seorang blogger profesional.

Oleh karena itu, bagi Anda yang juga mengalami hal sama seperti saya. Saya sarankan untuk melepaskan semua hal yang mengekang tulisan Anda. Biarkan masalah SEO, keyword, Adsense dan segalanya itu dilakukan oleh mereka yang mengerti akan hal tersebut. Bagi Anda yang benar-benar ingin ngeblog, maka ngeblog-lah.

Jika ada satu hal kecil saja yang terasa sebagai hambatan, maka lepaskan. Fokus pada tulisan, fokus pada kreatifitas, fokus pada diri Anda sendiri.