Relativity

Beat Magnum TRF – Sebuah Impian yang Terbawa dan Akhirnya Terwujud

beat-magnum-trf-sebuah-impian-yang-terbawa-dan-akhirnya-terwujud

Saya masih ingat. Saya benar-benar masih ingat. Dengan segala daya dan upaya saya masih ingat bagaimana dahulu saya harus berlari dari mesjid menuju rumah setelah acara didikan subuh selesai. Rumah saya tidak terlalu jauh dari mesjid. Kira-kira 70 meter. Tapi saya tetap berlari dan berlari mengejar waktu. Mengejar opening anime Let’s and Go!! yang tayang pukul setengah tujuh setiap hari Minggu.

Saya masih ingat alunan musiknya, saya masih ingat liriknya. Well, entah mengapa terasa sedikit berbeda ketika saya melihatnya kembali di YouTube.

Tapi sungguh, saya masih ingat.

Semua anak-anak yang pada masa itu memiliki TV di rumahnya (atau punya teman yang punya TV dan orang tua yang tidak keberatan mereka nonton bareng di rumahnya) juga masih ingat betul semua kenangan manis masa itu. Melupakan segala aktivitas sekolahan dan menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar TV.

Acara TV yang terlebih dahulu mereka saksikan pada masa itu biasanya anime Let’s and Go!! Karena jam tayangnya yang pagi sekali. Sayapun begitu. Saya bahkan tidak tahu acara apa sebelum Let’s and Go!! dimulai. Yang pasti, anime Let’s and Go!! adalah tontonan wajib saat itu. Ketinggalan satu episode adalah sebuah bencana.

Tak ayal, di waktu anime Let’s and Go!! sudah memasuki episode yang entah ke berapa, menjamurlah demam Mini 4WD (atau Tamiya seperti orang-orang menyebutnya). Anak-anak kecanduan Tamiya. Hampir semua anak laki-laki (dan beberapa perempuan) yang saya kenal memiliki Tamiya andalan masing-masing.

Sebagian saling beradu kecepatan di tempat-tempat seadanya. Teras rumah, gang sekolah, selokan, bahkan saya pernah balapan dari atas seluncuran di TK dekat rumah. Sebagian lagi balapan di track-track yang disediakan toko penjual mainan. Ada toko yang punya track pabrikan. Ada pula yang membuat track sendiri dari kayu dan karet ban.

Saya masih ingat, Tamiya pertama yang saya beli adalah Phantom Blade. Saya tidak ingat dari brand mana. Yang jelas bukan Tamiya asli. Duh, Tamiya asli harganya waktu itu mahal minta ampun. Rp100.000?? Uang saku saya waktu itu Rp5.000!

Rata-rata harga Tamiya yang mampu dibeli anak-anak jaman itu kisaran Rp15.000 sampai dengan Rp30.000. Dan tentu saja, brand yang paling terkenal waktu itu adalah Auldey. Karena kualitas barangnya yang lebih baik dari pada brand lain.

Seingat saya Tamiya yang saya punya dahulu kalau tidak salah ada Phantom Blade (Tamiya pertama saya tadi). Lalu ada Magnum Saber, Victory Magnum, Broken G, Bergkaiser, Max Breaker dan sebuah Tamiya custom yang saya beri nama Laser.

Tidak banyak memang. Karena saya sendiri termasuk payah dalam memodifikasi Tamiya agar kencang.

Sayang memang, Laser adalah Tamiya terakhir yang saya punya ketika masih anak-anak dahulu.

Tamiya Mini4WD Pertama Saya

Selang waktu berlalu, saya menjadi penasaran lagi dengan Tamiya setelah beberapa minggu yang lalu saya yang kurang kerjaan memutuskan untuk menonton kembali anime Let’s and Go!! Saya menjadi teringat impian masa kecil dahulu. Impian yang entah mengapa belum saya wujudkan.

Membeli Tamiya ASLI!

Uang sebanyak Rp135.000 untuk sebuah Tamiya standar bukan lagi jumlah yang terlalu besar. Yang menjual juga banyak di toko-toko online. Ditambah lagi ada promo gratis ongkir yang sayang jika dilewatkan. Ya sudah, saya memesan Tamiya Mini4WD Beat Magnum TRF.

Mengapa saya memilih Beat Magnum TRF sebagai Tamiya ASLI pertama saya?

Ah, sekali lagi saya ingat waktu itu ketika event balapan Tamiya di kota saya. Saya melihat seorang anak dan pamannya (atau ayahnya?) membawa kotak Tamiya kecil yang terbuat dari bahan acrylic. Di dalamnya terdapat sebuah Tamiya yang saya sudah sangat familiar betul. Karena saya sering melihatnya di iklan TV saat anime Let's and Go!! tayang.

Anak tersebut lalu mengeluarkan Beat Magnum TRF itu dari kotaknya. Menyalakannya dan melepaskannya di dalam lintasan event balapan yang merupakan lintasan paling panjang yang pernah saya lihat kala itu. Saya terpana melihat Beat Magnum TRF melaju kencang menelusuri lintasan dengan sangat mulus dan elegan.

Ya, elegan.

Saya sudah melihat bagaimana Tamiya custom buatan om-om pada waktu itu melaju dengan kencang, tapi kasar. Setiap tikungan terasa seperti akan menghancurkan plastik lintasan. Bunyinya juga kasar. Tetapi hal berbeda diperagakan oleh Beat Magnum TRF di waktu itu. Ia melaju dengan sangat kencang, namun setiap tikungan dilalui dengan mulus. Bak ada seorang pembalap yang mengendalikan Tamiya tersebut dari dalam. Bunyinya keras, tapi merdu. Saya benar-benar terpana. Ingin melihat aksi Beat Magnum TRF itu beberapa lap lagi, tapi sayang. Si anak pemilik Beat Magnum TRF tersebut sudah mengambil Tamiya-nya dari lintasan dan pergi berlalu sambil bercakap-cakap dengan pamannya (atau papi?).

Saya tidak pernah tahu siapa anak tersebut dan apa motifnya menurunkan Tamiya-nya di lintasan. Saya pikir waktu itu anak tersebut cuma ingin pamer. Karena Ia hanya mencoba lintasan sebanyak 1 lap dan pergi. Apa alasannya pamer? Mungkin karena Beat Magnum TRF yang dia punya adalah Tamiya ASLI. Pikir saya waktu itu.

Sejak itulah saya juga ingin membeli Tamiya Mini 4WD Beat Magnum yang ASLI.

Dan akhirnya impian tersebut terwujud. Di saat usia saya sudah hampir kepala 3. Sayangnya saya belum pernah mencoba Tamiya ini di lintasan. Saya tidak tahu apakah Beat Magnum TRF milik saya ini juga bisa berlari kencang dan se-elegan Beat Magnum TRF yang saya lihat dahulu. Karena sekarang sudah sulit sekali menemukan toko-toko yang menggelar atau menjual lintasan Tamiya. Membeli lintasan di toko online bukan pilihan yang bijak, karena beratnya membuat ongkos kirim lintasan Tamiya menjadi 4 kali lipat dari harga lintasannya sendiri!

Tapi hey, saya punya blog. Tidak ada salahnya membagikan foto-foto dari Beat Magnum TRF yang akhirnya saya miliki. Saya memasangnya dengan roller dragon. Karena ada promo gratis roller dragon. Jadi tidak ada salahnya juga.

Di waktu kurir datang ke rumah saya membawa paket berisi Beat Magnum TRF, dragon roller dan motor Plasma Dash yang saya pesan, mungkin itu adalah pertama kalinya saya senyum-senyum sendiri sejak menerima paket pertama saya beberapa tahun yang lalu.

Saya senang, saya bahagia sebuah impian kecil di masa kecil akhirnya menjadi kenyataan. Sebuah impian yang dibawa oleh sebuah benda kecil bernama Beat Magnum TRF akhirnya terwujud. Sebuah impian yang saya bawa sejak kecil akhirnya menjadi kenyataan.

Membuat saya teringat akan lirik lagu Winning Run! versi Bahasa Indonesia yang membuat saya berlari dan berlari dari mesjid ke rumah untuk sekedar mendengar…

Ayo maju…

Mobilku melaju cepat

Dengan membawa impianku

Semangatlah

Tuk melaju lebih cepat, esok hari cerah menanti

Di saat, rasa cemas datang dan melanda di hati

Terbayang senyuman yang kurindukan

Let's Go!

Bersatu dengan angin

LARILAH!

Mimpi-mimpiku!

Ku tak akan pernah menyerah, WINNING RUN!

Rasakan deru angin

LARILAH!

Sampai tujuan

Mari genggam kemenangan

DI TANGAN INI

0 Comments

Dipo Putra

Seorang pelukis gagal, musisi gagal, blogger gagal, audio engineer gagal, novelis gagal, mangaka gagal, programmer gagal, nuclear engineer gagal dan app developer gagal. Dari semua kegagalan itu akhirnya saya sadar akan satu hal yang tak pernah gagal saya lakukan: Procrastinating!

    Reply your comment

    Your email address will not be published. Required fields are marked*