Google AMP Tidak Muncul Kalau Tidak Pakai Gambar Unggulan

Entah mungkin karena naluri kali ya? Saya merasa jika saya tidak menggunakan featured image atau gambar unggulan pada setiap postingan blog saya, maka akan ada masalah pada Google AMP yang saya gunakan di blog ini. Dan ternyata memang benar.

Beberapa hari setelah saya mengimplementasikan Google AMP di blog ini, akhirnya blog saya berhasil di-'index' oleh Google AMP dan logo petir muncul di hasil pencarian yang mengarah ke blog saya. Saya senang bukan kepalang, senyum-senyum sendiri melihat blog saya ada logo petirnya. Tetapi saya menemukan masalah, ternyata tidak semua postingan blog ini yang ada logo petirnya.

Yang satu ada logo petirnya, yang satu lagi tidak.

Saya penasaran, apa penyebabnya? Apakah Google AMP hanya mengindex postingan terbaru saja? Ternyata tidak. Postingan pertama di blog ini malah sudah aktif Google AMP-nya.

Setelah mencoba melakukan penelusuran lebih lanjut, saya menemukan dugaan awal mengapa Google AMP tidak aktif di beberapa postingan.

Penyebabnya adalah featured image.

Pada screenshot di atas, postingan Pakai Featured Image atau Tidak adalah postingan yang tidak menggunakan featured image. Alias tidak ada gambar unggulannya. Sedangkan postingan Pakai Featured Image Lagi ada featured imagenya. Suatu hal yang sebenarnya sepele, tetapi ternyata berpengaruh terhadap kompatibilitas Google AMP. Saya tidak tahu apakah nantinya postingan yang tidak ada featured image akan aktif Google AMP-nya atau tidak. Mungkin kita harus menunggu beberapa waktu lagi. Sambil menunggu, mungkin saya akan melakukan sedikit editing pada postingan yang tidak ada featured imagenya. Akan saya edit menjadi ada featured image. Dan kita lihat apakah ini akan berpengaruh ke pada kompatibilitas Google AMP.

Jika percobaan ini ternyata memberikan pengaruh, mungkin kita bisa membuat 'hukum' baru agar postingan blog ada logo petirnya. Yaitu harus ada featured image.

Apa Itu DaVinci Resolve?

Seperti yang sudah pernah kita bahas pada artikel Video Editor Gratis Terbaik Buat YouTube, bahwa DaVinci Resolve 14 merupakan software gratis terbaik yang bisa Anda dapatkan untuk keperluan editing YouTube atau untuk keperluan editing filmmaker pemula maupun profesional. Tetapi sebenarnya apa itu DaVinci Resolve? Apa kelebihannya? Apa kekurangannya? Mengapa kita tidak menggunakan software yang lebih terkenal saja seperti Adobe Premiere Pro?

Awal Mula DaVinci Resolve

Dari namanya kita sudah bisa menebak bahwa DaVinci Resolve diambil dari nama sang genius: Leonardo da Vinci. Masuk akal memang, sebuah software yang berurusan dengan seni diambil dari nama seorang master seni.

DaVinci Resolve awalnya merupakan software buatan perusahaan asal Amerika Serikat yang bernama da Vinci Systems pada tahun 2004. Pada saat itu namanya adalah da Vinci Resolve (dengan awalan huruf d kecil dan tanpa spasi). da Vinci Systems sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri perfilman. Mereka terkenal dengan produk 'orang-orang film' seperti: color corrector, color grading, digital mastering system dan restorasi film.

Nah, untuk urusan color corrector, da Vinci Systems memiliki dua solusi. Yaitu solusi berbasis hardware(da Vinci Renaissance 888, da Vinci 2K dan da Vinci 2K Plus) dan solusi berbasis software, yaitu da Vinci Resolve!

Ini dahulu digunakan oleh produser film Hollywood.

Setelah berkecimpung selama 25 tahun (oh ya, da Vinci Systems didirikan pada tahun 1984), pada tahun tahun 2009, da Vinci Systems diakuisisi oleh perusahaan perfilman lainnya. Yaitu Blackmagic Design. Sebuah perusahaan yang didirikan pada tahun 2001 dan bermarkas di Australia. Sejak akuisisi itulah software DaVinci Resolve berevolusi menjadi software yang kita kenal saat ini.

Mengapa saya sebut berevolusi?

Seperti yang sudah saya sebutkan, da Vinci Systems adalah perusahaan yang bergerak di industri film. Hardware maupun software yang digunakan oleh industri tersebut bukanlah hardware/software yang bisa dibeli dan digunakan oleh masyarakat umum. Karena harganya yang mahal dan butuh keahlian khusus untuk mengoperasikannya.

Saya tidak menemukan berapa harga software da Vinci Resolve pada masa awal rilisnya, dari informasi yang saya dapat software ini membutuhkan hardware seharga $500,000 (Rp6.770.750.000) agar bisa berjalan!

Bandingkan dengan sekarang. Anda bisa mendownload DaVinci Resolve secara gratis dan menjalankannya di komputer dengan spesifikasi tidak terlalu tinggi.

Sebuah evolusi yang mampu mengubah industri perfilman di masa depan!

Penantang Adobe Premiere Pro

Adobe Premiere Pro sudah tidak bisa diragukan lagi sebagai non-linear video editing software yang populer dan banyak digunakan oleh para filmmaker di luar sana. Youtubers pun banyak yang menggunakan Adobe Premiere Pro. Karena Anda bisa dengan mudah menemukan tutorial tentang Adobe Premiere Pro dan belajar menggunakan software tersebut, serta ada banyak diskusi dan bantuan yang bisa Anda andalkan ketika mengalami kendala dalam menggunakan Adobe Premiere Pro.

Saya sendiri juga merupakan pengguna Adobe Premiere Pro. Atau bisa dibilang mantan pengguna Adobe Premiere Pro. Karena jujur saja, selama ini saya menggunakan Adobe Premiere Pro bajakan.

Selama menggunakan Adobe Premiere Pro, selalu tersirat rasa bersalah dalam diri saya setiap kali membuka Adobe Premiere Pro di komputer saya. Karena saya sendiri merupakan lulusan Sistem Informasi yang kerjanya berhubungan dengan software. Saya tahu bagaimana susahnya membangun sebuah software dan apa rasanya hasil kerja keras kita tidak membuahkan hasil. Dari rasa bersalah itulah saya mencoba mencari alternatif software video editing yang bisa menggantikan Adobe Premiere Pro. Pada saat itulah saya menemukan DaVinci Resolve 14.

Dari pengalaman saya, saya bisa pastikan bahwa DaVinci Resolve merupakan penantang serius Adobe Premiere Pro. Tidak hanya karena software ini gratis, tetapi performa software ini sendiri melebihi Adobe Premiere Pro. Walaupun saat ini saya menilainya menggunakan hardware yang terbatas, tapi bisa saya pastikan DaVinci Resolve lebih cepat dibandingkan dengan Adobe Premiere Pro.

Selain itu kemudahan penggunaannya. Hanya butuh beberapa jam bagi saya untuk memulai menggunakan DaVinci Resolve dan mengedit video secepat saya mengedit menggunakan Adobe Premiere Pro. Bahkan lebih cepat!

Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut bagaimana DaVinci Resolve 14 bisa menjadi penantang serius Adobe Premiere Pro. Namun yang pasti, Anda akan membuktikannya sendiri dari tutorial menggunakan DaVinci Resolve 14 di blog ini.

Kelebihan

Dari pengalaman saya selama kurang lebih 15 hari menggunakan DaVinci Resolve 14, saya bisa menemukan beberapa kelebihan DaVinci Resolve 14 dibandingkan software-software lainnya.

  • Gratis! Sudah pasti.
  • Multi-platform. Anda bisa menginstall DaVinci Resolve 14 di Windows, macOS X dan Linux!
  • Rendering cepat! Jauh lebih cepat dari pada Adobe Premiere Pro!
  • Mudah digunakan! Semudah menggunakan Windows Movie Maker!
  • Fungsi software terorganisir dengan baik. Tidak acak-acakan.
  • Gratis! Anda bisa menggunakan DaVinci Resolve 14 tanpa dipungut biaya!

Kekurangan

Dan tentu saja, tidak ada software yang sempurna. Berikut beberapa kekurangan yang saya temukan selama kurang lebih 15 hari menggunakan DaVinci Resolve 14:

  • Bug. Karena DaVinci Resolve 14 tergolong software baru, maka bug adalah sesuatu yang wajar.
  • Navigasi kaku. Mungkin karena kurang terbiasa, saya sering secara tak sengaja menghapus sesuatu yang tidak ingin saya hapus dan tanpa sengaja menimpa sesuatu yang tidak ingin saya timpa.
  • Harus hati-hati dan teliti sebelum me-render. Sebelum melakukan proses rendering, Anda akan dihadapkan pada beberapa pilihan yang harus akan pilih dengan teliti. Saya pernah menghabiskan waktu 2 jam untuk merender, tapi hasilnya tidak ada suaranya karena saya lupa memilih channel audio yang akan di-render.

Penutup

Saya berharap artikel ini bisa sedikit memberikan gambaran ke pada Anda tentang apa sebenarnya DaVinci Resolve itu. Harus saya akui bahwa artikel ini tidak terlalu berisi banyak informasi karena memang agak sulit menemukan informasi tentang DaVinci Resolve di internet. Sedangkan saya baru menggunakan software ini selama kurang lebih 15 hari. Masih butuh waktu bagi saya untuk menguasai software ini dan membagikannya ke pada Anda melalui blog ini.

Oleh karena itulah, nantikan tulisan selanjutnya tentang DaVinci Resolve di blog ini!

Spesifikasi PC Minimum DaVinci Resolve 14

Spesifikasi minimum sebuah software sekelas DaVinci Resolve 14 merupakan sesuatu yang menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak? DaVinci Resolve 14 tempatnya adalah di studio-studio Hollywood sana. Sudah barang tentu studio-studio tersebut memiliki spesifikasi PC diluar jangkauan masyarakat pada umumnya.

Sedangkan DaVinci Resolve 14 adalah sebuah software gratis (yang berbayar namanya DaVinci Resolve 14 Studio). Artinya, software tersebut bisa diakses dan digunakan oleh mereka yang punya PC jaman ketumbar sekalipun.

Siapa yang akan menggunakan DaVinci Resolve 14? Sudah barang tentu youtubers seperti yang sudah pernah saya bahas atau para filmmaker pemula yang sedang meniti karir. Dan tidak semua dari mereka yang memiliki spesifikasi mumpuni untuk menghandle software sekelas DaVinci Resolve 14.

Blackmagic Design selaku produsen DaVinci Resolve 14 sendiri tidak memberikan keterangan jelas tentang spesifikasi hardware minimum yang perlu Anda persiapkan untuk menjalankan DaVinci Resolve 14. Oleh karena itulah saya mencoba memberikan gambaran seperti apa kira-kira spesifikasi minimum yang perlu kita miliki untuk menjalankan DaVinci Resolve 14.

Sistem Operasi

  • Windows 8.1 Pro
  • Windows 10

Yup, Anda tidak salah lihat. DaVinci Resolve 14 hanya mendukung sistem operasi terbaru. Yaitu Windows 8.1 Pro atau Windows 10. Bagi Anda yang masih setia pada Windows 7 (atau Windows XP), maka Anda bisa gigit jari. DaVinci Resolve 14 sama sekali tidak mendukung sistem operasi lawas tersebut. Dari forum yang saya baca, jika Anda mencoba (dengan segala cara) untuk menginstall DaVinci Resolve di Windows 7, maka akan sering terjadi crash atau format yang tidak didukung. Beberapa kasus malah tidak bisa mengimpor video sama sekali.

Processor

Untuk processor, aman kita berasumsi jika untuk editing video minimal kita butuh processor Quad Core. Oleh karena itu spesifikasi minimumnya adalah:

  • Intel Xeon X3450
  • Intel Core i5-2310
  • Intel Core i5-3450S
  • AMD A6-3650
  • AMD FX-4100

Atau apa saja yang memiliki quad core murni. Bukan hyper-threading.

Namun tentu saja, lebih baru lebih baik dan lebih cepat juga lebih baik. Karena processor yang saya sebutkan di atas sudah termasuk processor berumur dan kecepatannya juga bukan terbaik di kelasnya.

RAM

  • DDR3 8GB

Sebenarnya Blackmagic Design menyarankan Anda untuk memiliki RAM minimal 16GB. Tapi karena artikel ini judulnya adalah spesifikasi minimum, maka saya rasa 8GB sudah cukup.

Mungkin.

GPU

Ini adalah bagian yang paling rumit. Karena ada banyak jenis GPU di luar sana. Blackmagic Design sendiri menyarankan untuk menggunakan GPU dengan SDRAM 8GB.

Apa GPU yang memiliki SDRAM 8GB? GTX 1080.

GPU High End.

Sekali lagi karena ini adalah spesifikasi minimum, maka menurut saya kita masih bisa selamat dengan menggunakan GPU dengan SDRAM setidaknya GDDR5 2GB.

Apa saja?

  • Nvidia GTX 750 Ti
  • Nvidia GTX 1050
  • RADEON R7 240
  • RADEON RX 560

Kecepatan GPU di atas juga bukan yang tercepat di kelasnya. Tetapi, video editing biasanya tidak terlalu membutuhkan kecepatan GPU. Beda halnya dengan gaming.

Monitor

Di Hollywood sana kemungkinan spesifikasi minimal monitor yang mereka gunakan adalah 4K. Tapi rekomendasi dari Blackmagic sendiri adalah:

  • Full HD Monitor 1920×1080

Mengapa harus Full HD? Karena monitor Full HD sudah menjadi standar bagi software-software video editing lainnya, seperti Adobe Premiere Pro. Jika Anda memiliki monitor di bawah Full HD, seperti 1366×768 misalnya, maka kemungkinan nantinya akan ada beberapa menu yang tidak tampil seluruhnya di monitor yang Anda gunakan.

Spesifikasi PC yang Saya Gunakan

Sebagai penutup, berikut adalah spesifikasi PC yang saya gunakan. Ini bisa dibilang spesifikasi di bawah minimum. Karena saya sendiri pada kenyataannya tidak memiliki spesifikasi PC yang mumpuni (sama sekali tidak mendekati yang saya jabarkan di atas). Tetapi saya masih bisa melakukan editing video secara dasar. Tanpa banyak menggunakan effect dan color-grading, saya masih bisa dikatakan selamat.

Oleh karena itu bagi Anda yang tidak punya budget mencukupi untuk membeli hardware yang memenuhi spesifikasi minimum di atas, maka spesifikasi PC saya bisa untuk Anda jadikan rujukan jika Anda hanya ingin melakukan editing dasar.

Berikut spesifikasinya (mohon jangan ditertawakan):

  • Windows 10 Pro
  • Intel Pentium G2010 2.8GHz
  • RAM DDR3 6GB
  • Nvidia GTX 550 Ti
  • Monitor LG 22M47VQ Full HD

Yang paling tinggi dari spesifikasi PC saya palingan hanya GPU-nya saja. Processornya malah bikin bottleneck. Monitornya termasuk monitor Full HD terjangkau. Tetapi seperti yang saya bilang tadi, spesifikasi seperti itu sudah cukup untuk melakukan editing dasar. Maka bagi Anda yang memiliki PC sama malangnya dengan saya, Anda tidak usah khawatir. Saya masih bisa bekerja membuat video YouTube dengan PC yang saya gunakan, Anda seharusnya juga bisa.

Tapi jika Anda malah memiliki PC yang lebih menyedihkan dari yang saya punya, maka kuatkan diri Anda.

Baiklah semoga artikel ini membantu bagi Anda untuk mendapatkan gambaran seperti apa sadisnya spesifikasi PC yang diminta oleh DaVinci Resolve 14. Nantikan artikel lainnya tentang DaVinci Resolve 14 di blog ini!

Pakai Featured Image Lagi

Pada artikel Pakai Featured Image Atau Tidak? Saya menjelaskan bahwa saya terlalu menghabiskan banyak waktu untuk membuat Featured Image pada setiap postingan blog saya. Beberapa puluh postingan kemudian, saya tidak pernah mempedulikan featured image lagi. Tetapi tampaknya sekarang akan ada perubahan lagi.

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, blog ini sekarang sudah mengimplementasikan Google AMP untuk mempercepat loading blog ini saat diakses melalui hasil pencarian Google. Setelah melakukan beberapa uji coba saya menemukan fakta bahwa ternyata dengan menggunakan Google AMP tampilan blog ini menjadi sedikit berantakan jika ada post yang muncul tanpa Featured Image.

Memang, tidak berpengaruh terlalu banyak. Tapi saya merasa sebuah featured image memang dibutuhkan pada setiap post agar bisa sedikit lebih menarik daripada dibiarkan kosong begitu saja. Selain itu dengan adanya featured image, blog ini terlihat sedikit lebih enak dipandang dari pada tidak.

Oleh karena itu sekarang saya akan menggunakan featured image pada setiap post lagi. Tapi kali ini saya tidak akan terlalu berlama-lama melakukan proses editing. Atau mungkin tidak akan saya edit sama sekali. Tidak akan saya beri watermark lagi dan tidak akan saya cocokkan ukurannya lagi. Sekarang yang penting ada featured image. 

Ya, mungkin pada prosesnya saya hanya akan langsung download gambar di Pixabay dan langsung upload untuk dijadikan featured image.

Well, sekarang saya tinggal menunggu proses implementasi Google AMP dan kita lihat apakah tampilan blog ini menjadi lebih rapi dengan adanya featured image di setiap post.

Blog Ini Mulai Menggunakan Google AMP

Belajar dari pengalaman saya sendiri yang sering melakukan pencarian hal-hal aneh di Google, saya merasa bahwa Google AMP penting untuk diimplementasikan di blog ini. Bagaimana tidak? Saya lebih suka mengklik situs yang ada logo ‘petir’-nya dari pada mengklik yang tidak ada logo petir (tapi tentu saja, itu hanya berlaku pada saat melakukan pencarian dengan smartphone).

Saya sendiri mengenal Google AMP pada bulan Januari lalu. Ceritanya hampir sama, saya mengklik situs yang ada logo petir di hasil pencarian Google dan saya terpana dengan kecepatan situs tersebut. Bisa dikatakan hanya dalam hitungan millisecond, Anda sudah sampai ke situs yang Anda tuju.

Logo Petir

Saya penasaran apa arti logo petir tersebut?

Setelah melakukan pencarian intensif, saya menemukan fakta bahwa ternyata logo petir tersebut merupakan Google AMP. Sebuah project baru lagi dari Google untuk membuat kecepatan sebuah website meningkat tajam. Lebih tajam dibandingkan sekedar keterangan 'mobile friendly' yang sebelumnya nangkring di  hasil pencarian situs yang sudah dioptimisasi agar tampilannya lebih enak saat diakses menggunakan smartphone.

Google AMP tidak hanya sekedar memberitahu pengguna bahwa situs yang dituju sudah mendukung tampilan mobile, tetapi mereka juga menyimpan cache dari situs yang sudah mendukung Google AMP di server Google sendiri. Sehingga pengguna pada prosesnya tidak secara langsung mengakses situs yang dituju, tetapi 'hanya' mengakses cache yang disimpan oleh Google. Dengan begitu kecepatan mengakses situs di hasil pencarian Google yang sudah mendukung Google AMP menjadi secepat mengakses Google itu sendiri.

Suangat cepat.

Saya sendiri sudah membaca dokumentasi Google AMP ini, serta cara mengimplementasikannya di WordPress. Untuk WordPress sendiri cukup mudah karena sudah ada plugin untuk itu. Kalau untuk CMS lain, mungkin agak rumit. Apalagi jika Anda membangun CMS Anda sendiri. Silahkan pusing sendiri.

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya tidak langsung mengimplementasikan Google AMP di blog ini pada saat saya mengenalnya di bulan Januari. Saya baru mengimplementasikannya sekarang. Mengapa? Karena saya sendiri sebelumnya skeptis dengan Google AMP. Saya tidak tahu apakah Google AMP merupakan project jangka panjang atau hanya sekedar project lainnya yang pada akhirnya akan ditinggalkan oleh Google.

Tetapi saya juga menemukan kenyataan lainnya bahwa situs-situs berita besar seperti BBC, TechCrunch dan situs berita tanah air pun sudah banyak yang menggunakan Google AMP. Jadi jika nanti di masa depan Google ingin melakukan perubahan besar pada Google AMP (seperti menutup project), maka Google akan banyak menghadapi masalah.

Oleh karena pertimbangan itulah saya berpikir, tidak ada salahnya menggunakan Google AMP. Toh, saya hanya tinggal menginstall plugin, melakukan customisasi kecil dan blog saya sudah menggunakan Google AMP. Jika tidak suka tinggal uninstall saja pluginnya dan berharap file WordPress saya tidak menjadi error.

Mungkin di lain kesempatan saya akan membuat tutorial tentang cara mengimplementasikan Google AMP di situs WordPress Anda menggunakan plungin yang saya pilih.